Cooperative Learning – Slavin

robert slavinRobert Slavin adalah seorang psikolog pendidikan terkemuka dan Direktur Institute for Efektif Pendidikan di New York University. Ia juga Direktur Pusat Data-Driven Reformasi Pendidikan di Johns Hopkins University dan tenaga pendorong di belakang berbasis Sukses AS untuk Semua Foundation, sebuah program restrukturisasi yang membantu sekolah untuk mengidentifikasi dan menerapkan strategi yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan semua pelajar.

Robert Slavin menerima gelar BA dalam Psikologi dari Reed College pada tahun 1972, dan PhD dalam Hubungan Sosial pada tahun 1975 dari Universitas Johns Hopkins. Dia telah menulis atau turut menulis lebih dari 200 artikel dan 20 buku, termasuk Psikologi Pendidikan: Teori ke Praktek (Allyn & Bacon, 1986, 1988, 1991, 1994, 1997, 2000, 2003, 2006), Pembelajaran Kooperatif: Teori, Penelitian , dan Praktek (Allyn & Bacon, 1990, 1995), Show Me Bukti: dan Menjanjikan Program Terbukti untuk Sekolah Amerika (Corwin, 1998), Program Efektif untuk Siswa Latino (Erlbaum, 2000), dan Satu Juta Anak-anak: Sukses untuk Semua (Corwin, 2001).

Profesor Slavin menerima American Educational Research Association Raymond B Cattell Dini Award Karir untuk Programatik Penelitian di tahun 1986, Palmer O Johnson Award untuk artikel terbaik dalam jurnal AERA pada tahun 1988, Charles A Dana Award pada tahun 1994, James Bryant Conant Award dari Komisi Pendidikan Amerika pada tahun 1998, Pimpinan Posisi di Penghargaan Pendidikan dari Horace Mann Liga pada tahun 1999, dan Distinguished Award Layanan dari Dewan Kepala Sekolah Pejabat Negara pada tahun 2000.

 

TEORI

Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham konstruktivis. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan beberapa siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.

Sedangkan menurut Slavin  pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok, siswa dalam satu kelas dijadikan kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4 sampai 5 orang untuk memahami konsep yang difasilitasi oleh guru. Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran dengan setting kelompok-kelompok kecil dengan memperhatikan keberagaman anggota kelompok sebagai wadah siswa untuk bekerjasama dan memecahkan suatu masalah melalui interaksi sosial dengan teman sebayanya, memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mempelajari sesuatu dengan baik pada waktu yang bersamaan dan ia menjadi narasumber bagi teman yang lain.

Tujuan pembelajaran kooperatif berbeda dengan kelompok tradisional yang menerapkan sistem kompetisi, di mana keberhasilan individu diorientasikan pada kegagalan orang lain. Sedangkan tujuan dari pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi di mana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya (Slavin, 1994).

Adapun teknik cooperative learning ada empat macam, yaitu :

  1. Team-Games-Tournament (TGT)
  2. Student Teams-Achievement Divisions (STAD)
  3. Jigsaw
  4. Group Investigation

 

Team-Games-Tournament (TGT)

Pembelajaran kooperatif tipe TGT adalah suatu pembelajaran dimana setelah kehadiran guru, siswa pindah kekelompoknya masing-masing untuk saling membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan dari materi yang diberikan. Sebagai ganti dari tes tertulis, setiap siswa akan bertemu seminggu sekali pada meja turnamen dengan dua rekan dari kelompok lain. Tiga siswa dalam setiap turnamen akan saling bersaing. Mereka menjawab satu pertanyaan yang sama, yang telah dibahas bersama-sama dalam kelompoknya. Dengan cara ini setiap siswa berkesempatan menyumbangkan skor sebanyak-banyaknya untuk kelompoknya.

 

Tahap-tahap (skenario) yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran kooperatif tipe TGT adalah sebagai berikut :

a. Pembentukan kelompok

Kelas dibagi atas kelompok-kelompok kecil terdiri dari 4-5 siswa. Perlu diperhatikan bahwa setiap kelompok mempunyai sifat heterogen dalam hal jenis kelamin dan kemampuan akademik. Sebelum materi pelajaran diberikan kepada siswa dijelaskan bahwa mereka akan bekerjasama dalam kelompok selama beberapa minggu dan memainkan permainan akademik untuk menambah poin bagi nilai kelompok mereka, dan bahwa kelompok yang nilainya tinggi akan mendapat penghargaan.

b. Pemberian materi

Materi pelajaran mula-mula diberikan melalui presentasi kelas, berupa pengajaran langsung atau diskusi bahan pelajaran yang dilakukan guru, menggunakan audiovisual. Materi pengajaran dalam TGT dirancang khusus untuk menunjang pelaksanaan turnamen. Materi ini dapat dibuat sendiri dengan jalan mempersiapkan lembaran kerja siswa.

c. Belajar kelompok

Kepada masing-masing kelompok diberikan untuk mengerjakan LKS yang telah disediakan. Fungsi utama kelompok ini adalah memastikan semua anggota kelompok belajar, dan lebih khusus lagi untuk menyiapkan anggotanya agar dapat mengerjakan soal-soal latihan yang akan dievaluasi melalui turnamen. Setelah guru memberikan materi I, kelompok bertemu untuk mempelajari lembar kerja dan materi lainnya. Dalam belajar kelompok, siswa diminta mendiskusikan masalah secara bersama-sama, membandingkan jawabannya, dan mengoreksi miskonsepsi jika teman satu kelompok membuat kesalahan.

d. Turnamen

Turnamen dapat dilaksanakan tiap bulan atau tiap akhir pokok bahasan. Untuk melaksanakan turnamen, langkahnya adalah sebagai berikut:

(1) membentuk meja turnamen, disesuaikan dengan banyaknya siswa pada setiap kelompok

(2) menentukan rangking (berdasarkan kemampuan) setiap siswa pada masing-masing kelompok

(3) menempatkan siswa dengan rangking yang sama pada meja yang sama

(4) masing-masing siswa pada meja turnamen bertanding untuk mendapatkan skor sebanyak-banyaknya

(5) skor siswa dari maasing-masing kelompok dikumpulkan, dan ditentukan kelompok yang mempunyai jumlah kumulatif tertinggi sebagai pemenang pertandingan.

e. Skor individu

Skor individu adalah skor yang diperoleh masing-masing anggota dalam tes akhir.

f. Skor kelompok

Skor kelompok diperoleh dari rata-rata nilai perkembangan anggota kelompok. Nilai perkembangan adalah nilai yang diperoleh oleh masing-masing siswa dengan membandingkan skor pada tes awal dengan skor pada tes akhir. Perhitungan nilai perkembangan sama dengan pada tipe STAD.

g. Penghargaan

Segera setelah turnamen, hitunglah nilai kelompok dan siapkan sertifikat kelompok untuk menghargai kelompok bernilai tinggi. Keberhasilan nilai kelompok dibagi dalam 3 tingkat penghaargaan, sama seperti pada tipe STAD.

 

Student Teams_Achievment Division (STAD)

STAD merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, sehingga tipe ini dapat digunakan oleh guru-guru yang baru mulai menggunakan pendekatan pembelajaran kooperatif. Menurut Slavin (2000), dalam STAD siswa ditempatkan dalam kelompok belajar beranggotakan empat orang yang merupakan campuran menurut tingkat kinerja, jenis kelamin, dan suku.

Sintaks Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD

Fase Tingkah Laku Guru

Fase-1

– Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa

– Guru menyampaikan tujuan pembelajaran (atau indikator hasil belajar)

– Guru memotivasi siswa

– Guru mengkaitkan pelajaran sekarang dengan yang terdahulu

Fase-2

– Menyajikan informasi

– Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bacaan

Fase-3

– Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar

– Guru menjelaskan kepada siswa cara membentuk kelompok belajar

– Guru mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok–kelompok belajar

(Setiap kelompok beranggotakan 4-5 orang dan harus heterogen terutama jenis kelamin dan kemampuan siswa)

Fase-4

– Membimbing kelompok bekerja dan belajar

– Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat siswa mengerjakan tugas

Fase-5

– Evaluasi

– Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau meminta siswa

– Mempresentasikan hasil kerjanya, kemudian dilanjutkan dengan diskusi

Fase-6

– Memberikan penghargaan

– Guru memberikan penghargaan kepada siswa yang berprestasi untuk menghargai upaya dan hasil belajar siswa baik secara individu maupun kelompok

Guru menyajikan pelajaran dan kemudian siswa bekerja di dalam kelompok mereka untuk memastikan bahwa seluruh anggota kelompok telah menguasai materi pelajaran tersebut. Akhirnya kepada seluruh siswa diberikan tes tentang materi itu. Pada waktu tes ini mereka tidak dapat saling membantu. Poin setiap anggota tim ini selanjutnya dijumlahkan untuk mendapat skor kelompok. Tim yang mencapai kriteria tertentu diberikan sertifikat atau ganjaran lain.

Jigsaw

Kooperatif tipe Jigsaw ini dikembangkan oleh Elliot Aronson’s. Kooperatif tipe jigsaw ini didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya. Dengan demikian siswa saling tergantung satu dengan yang lain dan harus bekerjasama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan.

Dalam penggunaan kooperatif tipe Jigsaw ini, dibentuk kelompok-kelompok heterogen beranggotakan 4 sampai 6 siswa. Materi pelajaran disajikan kepada siswa dalam bentuk tes dan setiap siswa bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan bagian materi tersebut kepada anggota kelompok lainnya (Arends, 2001).

Anggota pada kelompok yang berbeda dengan topik yang sama bertemu untuk diskusi (antar ahli), saling membantu satu dengan lainnya untuk mempelajari topik yang diberikan (ditugaskan) kepada mereka. Kemudiaan siswa tersebut kembali kepada kelompok masing-masing (kelompok asal) untuk menjelaskan kepada teman-teman satu kelompok tentang apa yang telah dipelajarinya. Dengan demikian penggunaan tipe Jigsaw terdapat dua jenis kelompok, yakni kelompok asal dan kelompok ahli. Kelihatannya dalam pengorganisasian belajar seperti ini memiliki keterkaitan dengan “penggunaan tutor sebaya”.

Tahap-tahap pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw

Sintaks Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw

Fase Tingkah Laku Guru

Fase-1

– Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa

– Guru menyampaikan tujuan pembelajaran (atau indikator hasil belajar)

– Guru memotivasi siswa

– Guru mengkaitkan pelajaran sekarang dengan yang terdahulu

Fase-2

– Menyajikan informasi

– Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bacaan

Fase-3

– Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompokkelompok belajar

– Guru menjelaskan kepada siswa cara membentuk kelompok

– Guru mengorgani-sasikan siswa ke dalam kelompok–kelompok belajar (Setiap kelompok beranggotakan 5-6 orang, heterogen, dan setiap anggota diberi tanggung jawab untuk mempelajari bagian tertentu bahan yang diberikan untuk menjadi ahli pada masing-masing bagian tertentu).

Fase-4

– Membimbing kelompok bekerja dan belajar

– Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat siswa mengerjakan tugas

Fase-5

– Evaluasi

– Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau meminta siswa mempresentasikan hasil kerjanya, kemudian dilanjutkan dengan diskusi

Fase-6

– Memberikan penghargaan

– Guru memberikan penghargaan kepada siswa yang berprestasi untuk menghargai upaya dan hasil belajar siswa baik secara individu maupun kelompok

Jigsaw didesain selain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa secara mandiri juga dituntut saling ketergantungan yang positif (saling membantu) terhadap teman sekelompoknya. Pada akhir pembelajaran diberikan tes kepada siswa secara individual. Materi yang diteskan meliputi materi yang telah dibahas. Kunci pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah interdependensi setiap siswa terhadap anggota kelompok yang memberikan informasi yang diperlukan dengan tujuan agar dapat mengerjakan tes dengan baik.

 

Group Investigation

Group Investigation adalah teknik cooperative learning dimana para murid bekerja didalam kelompok-kelompok kecil untuk menanggapi berbagai macam proyek kelas. Setiap kelompok membagi-bagi untuk tugas tersebut menjadi sub topic-sub topic yang kemudian setiap anggota kelompok melakukan kegiatan meneliti untuk mencapai tujuan kelompok. Setelah itu setiap kelompok mengajukan hasil penelitiannya kepada kelas. Dalam teknik ini, hadiah atau point tidak diberikan.

Menurut Slavin (2000) beberapa keuntungan dalam pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut:

a. Siswa bekerjasama dalam mencapai tujuan dengan menjunjung tinggi norma-norma kelompok.

b. Siswa aktif membantu dan mendorong semangat untuk sama-sama berhasil.

c. Aktif berperan sebagai tutor sebaya untuk lebih meningkatkan keberhasilan kelompok.

d. Interaksi antar siswa seiring dengan peningkatan kemampuan mereka dalam berpendapat.

e. Interaksi antar siswa juga membantu meningkatkan perkembangan kognitif yang non konservatif menjadi konservatif (Teori Piaget).

 

EKSPERIMEN

Slavin (1995) melakukan penelitian yang berlangsung selama 4-5 minggu pada beberapa proses belajar dan menggunakan berbagai metode pembelajaran kooperatif. Secara keseluruhan, siswa dalam kelompok pembelajaran kooperatif mencetak sekitar seperempat dari deviasi standar yang lebih tinggi pada tes prestasi daripada siswa yang diajarkan secara konvensional. Ini menjadi sebuah keuntungan dari 10 peringkat persen (persen 60 untuk siswa belajar koperasi-rata versus persentil ke-50 untuk rata-rata siswa diajarkan konvensional).  Tetapi efek menguntungkan dari pembelajaran kooperatif ini bervariasi sebagai fungsi dari metode tertentu yang digunakan. Kinerja yang terbaik terjadi dengan dua teknik yang disebut-Prestasi Mahasiswa Tim Divisi dan Tim-Games-Turnamen. fitur pembelajaran kooperatif yang tampaknya paling bertanggung jawab untuk belajar keuntungan adalah kelompok tujuan dan tanggung jawab individu.

Slavin (1995) menemukan bahwa sebelas dalam lima belas studi, pembelajaran kooperatif bila dibandingkan dengan pembelajaran nonkooperatif meningkat lebih besar dalam beberapa aspek diri (umum harga diri, harga diri akademik, sosial, harga diri).

 

PENERAPAN TEORI DALAM PENDIDIKAN

Penerapan cooperative learning (pembelajaran kooperatif) dalam pendidikan itu sendiri adalah dalam satu pelajaran tertentu, pembelajaran kooperatif dapat digunakan untuk tiga tujuan berbeda. Sebagai contoh, dalam suatu pelajaran tertentu para siswa bekerja berkelompok untuk berupaya menemukan sesuatu, misalnya saling membantu mengungkapkan prinsip-prinsip suara melalui pengamatan dan aktivitas menggunakan botol berisi air. Setelah pelajaran selesai, siswa dapat bekerja sebagai kelompok-kelompok diskusi. Akhirnya siswa mendapat kesempatan bekerjasama untuk memasukkan bahwa seluruh anggota kelompok telah menguasai segala sesuatu tentang pelajaran tersebut sebagai persiapan untuk kuis, bekerja dalam suatu format belajar kelompok. Di dalam skenario yang lain, kelompok kooperatif dapat digunakan untuk memecahkan suatu masalah kompleks.

 

DAFTAR PUSTAKA

– Arends, R. I. (2001). Learning to Teach. New York: McGrawHill

– ipotes.wordpress.com/2008/05/10/metode-pembelajaran-kooperatif/

– translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://college.cengage.com/education/pbl/tc/coop.html

Tentang dhiey

luv softball baseball, luv freunds, luv anthing all about to writting
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s