NAMANYA BAGAS…

Kamis, Pulang dari angkringan ngabisin duit,, :
1.nasi mie 2 mangkok,
2.bakso tahu 8 (3 dmakan dt4,5 dbw plg)
3.es teh,,
hahahaha.. Kenyuank buangeth..,

truz,nganter sister pLg ke koz na,n then blik lewat jLn gejayan,,

dpertigaan bangjo gejayan (selatan ke demangan, kanan ke uny),dapetlah lampu merah,,
tiba” datanglah seorang anak kecil berkisar umur 9th, dari dkt kira2 1meter dari tempat q brhenti trlihatlah ia membawa kaen kanebo buat mengelap motor,
dan tak lama kemudian, ia menghampiriku,,

a: “mb, mb, boleh numpang ke depan hotel sartika nggk?”, tanya anak kecil itu
q: “sama siapa?, ya udah dh boleh”, jawabku..
Seraya ia langsung naek ke atas jok motorku, dan lampu pun hijau.

Q: “temen na nggk ikut?, mau ngapain ke sana,dek?”, tanyaku.
A: “mau ngamen,mb.”
q: “ngamen? Kok nggk bareng sama temennya? Emank kenapa koq ngamen,dek?”
A: ” diajak temen ,mb ke jogja. sama ibu juga disuruh pergi cari duit sendiri.”
Q: “kamu berapa saudara?”
A: ” enam, mbak. aku anak ke empat.”
Q: ” kamu kalo ngamen sampe jam brapa, trus tdur dimana?”
A: “nyampe jam 1o malem, mbak. trus tidurnya ya di pinggir toko-toko gitu.”
Q: “paling banyak dapet hasil ngamen dimana? trus kalo maem belinya pake duit apa kalo hasil ngamen disetor?”
A: “di deket KFC, mbak. ya nggak disetor. jadinya kalo makan belinya pake duit hasil ngamen.”
Q: “kamu ke jogja naik apa?”
A: ” naik sepur,mbak.”
Q: “kamu sekolah nggak? umur kamu berpa?”
A: “nggak, mbak. delapan tahun,mbak.”
Q: ” nama kamu siapa?”
A: ” Bagas”

#pilu, sakit rasanya…
#nangis denger cerita bagas, nulis ini kembalipun nangis…, bukannya cengeng, tapi
aku merasa bersyukur atas apa yang telah ALLAH berikan sama aku. tinggal bareng keluarga, minta dikasih, sekolah, makan enak dan disiapin sama mama, sementara bagas diusia yang masih kecil harus bekerja keras untuk bisa makan dan hidup, karena disuruh pergi orang tuanya….

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

PENDEKATAN CLIENT CENTERED

PENDEKATAN CLIENT CENTERED

1. PENGANTAR

Penggagas pendekatan client centered yang pertama adalah Carl R.ogers. Pendekatan ini sebagi reaksi dari pendekatan psikoanalisis. Pendekatan Client Centered merupakan cabang dari paham umanistik. Pendekatan ini menaruh kepercayaan bahwa client memiliki kesanggupan untuk memecahkan masalahnya sendiri. Hubungan terapis dan client merupakan alat untuk meningkatkan kesadaran dan menemukan sumber-sumber yang terpendam yang kemudian membangun konstruksi dalam pengubahan hidupnya.

2. KONSEP-KONSEP UTAMA

a. Pandangan Tentang Sifat Manusia
Manusia dalam pandangan Rogers adalah bersifat positif. Ia mempercayai bahwa manusia memiliki dorongan untuk selalu bergerak ke muka, berjuang untuk berfungsi, kooperatif, konstrukstif dan memiliki kebaikan pada inti terdalam tanpa perlu mengendalikan dorongan-dorongan agresifnya. Filosofi tentang manusia ini berimplikasi dalam praktek terapi client centered dimana terapis meletakan tanggung jawab proses terapi pada client, bukan terapis yang memiliki otoritas. Client diposisikan untuk memiliki kesnggupan-kesangguapan dalam membuat keputusan.
b. Ciri-Ciri Pendekatan Client Centered
Berikut ini uraian ciri-ciri pendektan Client Centered dari Rogers :
1. Client dapat bertanggungjawab, memiliki kesanggupan dalam memecahkan masalah dan memilih perliku yang dianggap pantas bagi dirinya.
2. Menekankan dunia fenomenal client. Dengan empati dan pemahaman terhadap client, terapis memfokuskan pada persepsi diri client dan persepsi client terhadap dunia.
3. Prinsip-prinsip psikoterapi berdasarkana bahwa hasrat kematangan psikologis manusia itu berakar pada manusia sendiri. Maka psikoterapi itu bersifat konstrukstif dimana dampak psikoteraputik terjadi karena hubungan konselor dan client. Karena hal ini tidak dapat dilakukan sendirian (client).
4. Efektifitas teraputik didasarkan pada sifat-sifat ketulusan, kehangatan, penerimaan nonposesif dan empati yang akurat.
5. Pendekatan ini bukanlah suatu sekumpulan teknik ataupun dogma. Tetapi berakar pada sekumpulan sikap dan kepercayaan dimana dalam proses terapi, terapis dan client memperlihatkan kemanusiawiannya dan partisipasi dalam pengalaman pertumbunhan.

3. PROSES TERAPUTIK
a. Tujuan-Tujuan Teraputik
Tujuani dari pendekatan Client Centered ini adalah menciptakan iklim yang kondusif bagi usaha membatu Client untuk menjadi seorang pribadi yang berfungsi utuh. Pemahaman client terhadap dirinya sendiri menjadi bagian yang penting. Client seperti sedang berpura-pura dan menggunakan topeng. Maka ia terhambat untuk tampil utuh, menipu diri sendiri dan orang lain dan ia menjadi asing dengan dirinya sendiri. Roger menegaskan cirri-ciri yang menjadi tujuan dalam proses terapi dalam pendekatan client centered sebagai berikut :
Keterbukaan pada pengalaman
Adalah memandang kenyataan dan membuka kesadaran yang menyiratkan seperti kenyataan itu hadir ada diluar dirinya. Orang memiliki kesadaran atas dirinya sendiri pada saat sekarang dan kesanggupan mengalami dirinya dengan cara-cara baru.
Kepercayaan terhadap organisme sendiri
Problem utama client pada awal adalah adanya ketidakpercayaan terhadap diri sendiri, kurang berani memutuskan dan sehingga ia acapkali meminta saran diluar dirinya. Dengan meningkanya keterbukaan client pada pengalaman-pengalamannya maka kepercayaan dirinya mulai muncul.
Tempat evaluasi internal
Bagian ini diharapkan agar client semakin menaruh perhatian kepada dirinya sendiri, membuat persetujuan sediri dan membuat keputusan tentang standart perilaku dengan dirinya sendiri dan pilihan-pilihan bagi hidupnya.
Kesediaan untuk menjadi proses
Pemahaman tentang konsep menjadi diri sendiri merupakan proses, bukan produk. Maka dalam proses terapi penting agar client menyadari tentang hal ini. Posese pengujian persepsi-persepsi, kepercayaan-keparcayaan dan membuka pengalaman baru.

4. FUNGSI DAN PERAN TERAPIS
Peran terapis dalam pendekatan ini terletak pada cara-car keberadaan terapis dan sikap-sikapnya, bukan penggunaan teknik. Terapis menggunakan dirinya sendiri sebagai alat untuk mengubah. Peran terapis adalah tanpa peran. Adapun fungsi terapis adalah membangun suatu iklim teraputik yang menunjang pertumbuhan client.
a. Pengalaman client dalam terapi
Penting sekali bahwa konselor harus menciptakan iklim yang kondusif bagi eksplorasi diri, maka client berpeluang mengalami dan mengeksplorasi dirinya sendiri. Sebagai contoh dalam pengalaman client dalam terapi adalah ada seorang mahasiswa memiliki masalah ketidakcocokan (diskrepansi) dalam memandang dirinya sendiri (self concept) atau ideal self concept tentang dirinya dengan kenyataan bahwa dirinya tidak seperti yang diharapkan. Sehingga hal ini menimbukan kecemasan dan kesulitan pribadi yang pada gilirannya termotivasi untuk menjalani terapi.
Pada awalnya terasa agak sulit. Client juga sangat berharap pemecahan dan solusi yang ajaib dari terapis karena perasaan tak berdaya dan tak percaya diri. Dalam pendekatan client centered, client diajarakan untuk bertanggungjawab dengan dirinya sendiri dan belajar luas untuk memahami dirinya sendiri melalui hubungan dengan terapis. Melalui sikap yang tulus, penerimaan tak bersyarat, empati yang akurat maka diharapkan client dapat memahami hal-hal yang tersembunyi dibalik dirinya. Pada akhirnya client mampu dan berani menyatakan ketakutan, kecemasan, perasaan berdosa, perasaan malu, benci, marah dan perasaan-perasaan lainnya yang dianggap negative. Client bergerak pada arah yang terbuka terhadap pengalamannya dan melepas belenggu-belenggu deterministik yang membuat dirinya terpenjara dalam ruang psikologisnya. Dengan meningkatnya kebebasan, maka client lebih matang secara psikologis dan lebih teraktualisasi.
b. Hubungan antara terapis dan client
Konsep hubungan antara terapis dan client dalam pendekatan ini ditegaskan oleh pernyataan Rogers (1961) “jika saya bisa menyajikan suatu tipe hubungan, maka orang lain akan menemukan dalam dirinya sendiri kesanggupan menggunakan hubungan itu untuk pertumbuhan dan perubahan, sehingga perkembangan peribadipun akan terjadi. Ada enam kondisi yang diperlukan dan memadahi bagi perubahan kepribadian :
1. Dua orang berada dalam hubungan psikologis.
2. Orang pertama disebut client, ada dalam keadaan tidak selaras, peka dan cemas.
3. Orang kedua disebut terapis, ada dalam keadaan selaras atau terintegrasi dalam berhubungan.
4. Terapis merasakan perhatian positif tak bersyarat terhadap client.
5. Terapis merasakan pengertian yang empatikterhadap kerangka acuan internal client dan berusaha mengkomunikasikan perasaannya ini kepad terapis.
6. Komunikasi pengertian empatik dan rasa hormat yang positif tak bersyarat dari terapis kepada client setidak-tidaknya dapat dicapai.
Ada tiga cirri atau sikap terapis yang membentuk bagian tengan hubungan teraputik :
Pertama, Keselarasana/kesejatian. Konsep kesejatian yang dimaksud Rogers adalah bagaimana terapis tampil nyata, utuh, otentik dan tidak palsu serta terinytgrasi selama pertemuan terapi. Terapis bersikap secara spontan dan terbuka menyatakan sikap-sikap yang ada pada dirinya baik yang positif maupun negatif. Terapis tidak diperkenankan terlibat secara emosional dan berbagi perasaan-perasaan secara impulsive terhadap client. Hal ini dapat menghambat proses terapi. Jelas bahwa pendekatan client centered berasumsi bahwa jika terapi selaras/menunjukkan kesejatiannya dalam berhubungan dengan client maka proses teraputic bisa berlangsung.
Kedua, Perhatian positif tak bersayarat. Perhatian tak bersayarat itu tidak dicampuri oleh evaluasi atau penilaian terhadap pemikiran-pemikiran dan tingkah laku client sebagai hal yang buruk atau baik. Perhatian tak bersyarat bkan sikap “Saya mau menerima asalkan…..melainkan “Saya menerima anda apa adanya”. Perhatian tak bersyarat itu seperti continuum. Semakin besar derajat kesukaan, perhatian dan penerimaan hangat terhadap client, maka semakin besar pula peluang untuk menunjung perubahan pada client.
Ketiga, Pengertian empatik yang akurat. Pada bagian ini merupakan hal yang sangat krusial, dimana terapis benar-benar dituntut untuk menggunakan kemampuan inderanya dalam berempati guna mengenali dan menjelajahi pengalaman subjektif dari client. Konsep ini menyiratkan terapis memahami perasaan-perasaan client yang seakan-akan perasaanya sendiri. Tugas yang makin rumit adalah memahami perasaan client yang samar dan memberikan makna yang makin jelas. Tugas terapis adalah membantu kesadaran client terhadap perasaan-perasaan yang dialami. Regers percaya bahwa apabila terapis mampu menjangkau dunia pribadi client sebagaimana dunia pribadi itu diamati dan dirasakan oleh client, tanpa kehilangan identitas dirinya yang terpisah dari client, maka perubahan yang konstruktif akan terjadi.

5. PENERAPAN : TEKNIK-TEKNIK DAN PROSEDUR-PROSEDUR TERAPEUTIK

a. Tempat Teknik-Teknik dalam Pendekatan Client Centered
Penekanan teknik-teknik dalam pendekatan ini adalah pada kepribadian, keyakinan-keyakinan, dan sikap-sikap terapis, serta hubungannya dengan terapeutik. Dalam kerangka client centered, “teknik-teknik”nya adalah pengungkapan dan pengkomunikasian penerimaan, respek dan pengertian serta berbagi upaya dengan client dalam mengembangkan kerangka acuan internal dengan memikirkan, merasakan dan mengeksplorasi.
b. Periode-periode Perkembangan Terapi Client Centered
Hart (1970) membagi perkembangan teori Rogers ke dalam tiga periode yakni : Pertama, periode 1 (1940-1950) : Psikoterapi nondirektif, dimana menekankan penciptaan iklim permisif dan nondirektif. Penerimaan dan klarifikasi sebagai tekniknya. Kedua, Periode 2 (1950-1957) : Psikoterapi reflektif. Terapis merefleksikan perasaan-perasaan client dan menghindari ancaman dalam hubungannya dengan dengan client. Client diharapkan mampu mengembangkan keselarasan antara konsep diri dan konsep diri ideal. Ketiga, Periode 3 (1957-1970); Terapi eksperiensial. Tingkah laku yang luas terapis yang mengungkapkan sikap-sikap dsarnya menandai pendekatan ini. Terapis difokuskan pada apa yang sedang dialami client dan pengungkapan oleh terapis. Sejak tiga pulu tahun terakhir, terapi client centered telah bergeser ke arah lebih banyak membawa kepribadian terapis dalam proses terapeutik.
c. Penerapan di Sekolah : Proses Belajar Mengajar
Filsafat yang mendasari teori client centered memiliki penerapan langsung pada proses belajar. Seperti pandangannya terhadap terapis dan client, guru berperan sebagai alat yang menciptakan atmosfer yang positif dan siswa dipandang sebagai manusi yang dapat bertanggungjawab dan menemukan masalah-masalah yang penting yang berkaitan dengan keberadaan dirinya. Siswa bisa terlibat dalam kegiatan belajar bermakna, jika guru menciptakan iklim kebebasan dan kepercayaan. Fungsi guru seperti yang dijalankan terapis : kesejatian, ketulusan, keterbukaan, penerimaan, pengertian, empati dan kesediaan untuk membiarkan para siswa untuk mengeksplorasi materi yang bermakna menciptakan atmosfer dimana kegiatan belajar yang signifikan bisa berjalan.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

RATIONAL EMOTIVE THERAPY

RATIONAL EMOTIVE THERAPY
A. Konsep Dasar
Menurut Albert Ellis, manusia pada dasarnya adalah unik yang memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional. Ketika berpikir dan bertingkahlaku rasional manusia akan efektif, bahagia, dan kompeten. Ketika berpikir dan bertingkahlaku irasional individu itu menjadi tidak efektif. Reaksi emosional seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi, interpretasi, dan filosofi yang disadari maupun tidak disadari. Hambatan psikologis atau emosional tersebut merupakan akibat dari cara berpikir yang tidak logis dan irasional, yang mana emosi yang menyertai individu dalam berpikir penuh dengan prasangka, sangat personal, dan irasional.
Berpikir irasional ini diawali dengan belajar secara tidak logis yang biasanya diperoleh dari orang tua dan budaya tempat dibesarkan. Berpikir secara irasional akan tercermin dari kata-kata yang digunakan. Kata-kata yang tidak logis menunjukkan cara berpikir yang salah dan kata-kata yang tepat menunjukkan cara berpikir yang tepat. Perasaan dan pikiran negatif serta penolakan diri harus dilawan dengan cara berpikir yang rasional dan logis, yang dapat diterima menurut akal sehat, serta menggunakan cara verbalisasi yang rasional.
Pandangan pendekatan rasional emotif tentang kepribadian dapat dikaji dari konsep-konsep kunci teori Albert Ellis : ada tiga pilar yang membangun tingkah laku individu, yaitu Antecedent event (A), Belief (B), dan Emotional consequence (C). Kerangka pilar ini yang kemudian dikenal dengan konsep atau teori ABC.
1. Antecedent event (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta, kejadian, tingkah laku, atau sikap orang lain. Perceraian suatu keluarga, kelulusan bagi siswa, dan seleksi masuk bagi calon karyawan merupakan antecendent event bagi seseorang.
2. Belief (B) yaitu keyakinan
, pandangan, nilai, atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa. Keyakinan seseorang ada dua macam, yaitu keyakinan yang rasional (rational belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief atau iB). Keyakinan yang rasional merupakan cara berpikir atau system keyakinan yang tepat, masuk akal, bijaksana, dan kerana itu menjadi prosuktif. Keyakinan yang tidak rasional merupakan keyakinan ayau system berpikir seseorang yang salah, tidak masuk akal, emosional, dan keran itu tidak produktif.
3. Emotional consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan antecendent event (A). Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun yang iB.
Selain itu, Ellis juga menambahkan D dan E untuk rumus ABC ini. Seorang terapis harus me lawan (dispute; D) keyakinan-keyakinan irasional itu agar kliennya bisa menikmati dampak-dampak (effects; E) psi kologis positif dari keyakinan-keyakinan yang rasional.
Sebagai contoh, “orang depresi merasa sedih dan ke sepian karena dia keliru berpikir bahwa dirinya tidak pantas dan merasa tersingkir”. Padahal, penampilan orang depresi sama saja dengan orang yang tidak mengalami depresi. Jadi, Tugas seorang terapis bukanlah menyerang perasaan sedih dan kesepian yang dialami orang depresi, melainkan me nyerang keyakinan mereka yang negatif terhadap diri sendiri.
Walaupun tidak terlalu penting bagi seorang terapis mengetahui titik utama keyakinan-keyakinan irasional tadi, namun dia harus mengerti bahwa keyakinan tersebut adalah hasil “pengondisian filosofis”, yaitu kebiasaan-kebiasaan yang muncul secara otomatis, persis seperti kebiasaan kita yang langsung mengangkat dan menjawab telepon setelah mendengarnya berdering.
B. Asumsi Tingkah Laku Bermasalah

Dalam perspektif pendekatan konseling rasional emotif tingkah laku bermasalah, didalamnya merupakan tingkah laku yang didasarkan pada cara berpikir yang irrasional.
Adapun ciri-ciri berpikir irasional adalah
:
1. Tidak dapat dibuktikan
2. Menimbulkan perasaan tidak enak (kecemasan, kekhawatiran, prasangka) yang sebenarnya tidak perlu
3. Menghalangi individu untuk berkembang dalam kehidupan sehari-hari yang efektif
Sebab-sebab individu tidak mampu berpikir secara rasional disebabkan oleh:
1. Individu tidak berpikir jelas tentang saat ini dan yang akan datang, antara kenyatan dan imajinasi
2. Individu tergantung pada perencanaan dan pemikiran orang lain
3. Orang tua atau masyarakat memiliki kecenderungan berpikir irasional yang diajarkan kepada individu melalui berbagai media.
Indikator sebab keyakinan irasional adalah:
1. Manusia hidup dalam masyarakat adalah untuk diterima dan dicintai oleh orang lain dari segala sesuatu yang dikerjakan
2. Banyak orang dalam kehidupan masyarakat yang tidak baik, merusak, jahat, dan kejam sehingga mereka patut dicurigai, disalahkan, dan dihukum
3. Kehidupan manusia senantiasa dihadapkan kepada berbagai malapetaka, bencana yang dahsyat, mengerikan, menakutkan yang mau tidak mau harus dihadapi oleh manusia dalam hidupnya
4. Lebih mudah untuk menjauhi kesulitan-kesulitan hidup tertentu dari pada berusaha untuk menghadapi dan menanganinya
5. Penderitaan emosional dari seseorang muncul dari tekanan eksternal dan bahwa individu hanya mempunyai kemampuan sedikit sekali untuk menghilangkan penderitaan emosional tersebut
6. Pengalaman masa lalu memberikan pengaruh sangat kuat terhadap kehidupan individu dan menentukan perasaan dan tingkah laku individu pada saat sekarang
7. Untuk mencapai derajat yang tinggi dalam hidupnya dan untuk merasakan sesuatu yang menyenangkan memerlukan kekuatan supranatural\
8. Nilai diri sebagai manusia dan penerimaan orang lain terhadap diri tergantung dari kebaikan penampilan individu dan tingkat penerimaan oleh orang lain terhadap individu.
Menurut Albert Ellis juga menambahkan bahwa secara biologis manusia memang “diprogram” untuk selalu menanggapi “pengondisian-pengondisian” semacam ini. Keyakinan-keyakinan irasional tadi biasanya berbentuk pernyataan-pernyataan absolut. Ada beberapa jenis “pikiran -pikiran yang keliru” yang biasanya diterapkan orang, di antaranya:
1. Mengabaikan hal-hal yang positif,
2. Terpaku pada yang negatif,
3. Terlalu cepat menggeneralisasi.

Secara ringkas, Ellis mengatakan bahwa ada tiga ke yakinan irasional:
1. “Saya harus punya kemampuan sempurna, atau saya akan jadi orang yang tidak berguna”:
2. “Orang lain harus memahami dan mempertimbang kan saya, atau mereka akan menderita”.
3. “Kenyataan harus memberi kebahagiaan pada saya, atau saya akan binasa”.

C. Tujuan Konseling
1. Memperbaiki dan merubah sikap, persepsi, cara berpikir, keyakinan serta pandangan-pandangan klien yang irasional dan tidak logis menjadi pandangan yang rasional dan logis agar klien dapat mengembangkan diri, meningkatkan sel-actualizationnya seoptimal mungkin melalui tingkah laku kognitif dan afektif yang positif.
2. Menghilangkan gangguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri seperti rasa takut, rasa bersalah, rasa berdosa, rasa cemas, merasa was-was, rasa marah.

Tiga tingkatan insight yang perlu dicapai klien dalam konseling dengan pendekatan rasional-emotif :
1. Insight dicapai ketika klien memahami tentang tingkah laku penolakan diri yang dihubungkan dengan penyebab sebelumnya yang sebagian besar sesuai dengan keyakinannya tentang peristiwa-peristiwa yang diterima (antecedent event) pada saat yang lalu.
2. Insight terjadi ketika konselor membantu klien untuk memahami bahwa apa yang menganggu klien pada saat ini adalah karena berkeyakinan yang irasional terus dipelajari dari yang diperoleh sebelumnya.
3. Insight dicapai pada saat konselor membantu klien untuk mencapai pemahaman ketiga, yaitu tidak ada jalan lain untuk keluar dari hembatan emosional kecuali dengan mendeteksi dan melawan keyakinan yang irasional.
Klien yang telah memiliki keyakinan rasional terjadi peningkatan dalam hal :
(1) minat kepada diri sendiri,
(2) minat sosial,
(3) pengarahan diri,
(4) toleransi terhadap pihak lain,
(5) fleksibel,
(6) menerima ketidakpastian,
(7) komitmen terhadap sesuatu di luar dirinya,
(8) penerimaan diri,
(9) berani mengambil risiko,
(10) menerima kenyataan.

Ellis berulang kali menegaskan bahwa betapa pentingnya “kerelaan menerima diri-sendiri”. Dia mengatakan, dalam RET, tidak seorang pun yang akan disalahkan, dilecehkan, apalagi dihukum atas keyakinan atau tindakan mereka yang keliru. Kita harus menerima diri sebagaimana adanya, menerima sebagaimana apa yang kita capai dan hasilkan. Dia mengkritik teori-teori yang terlalu menekankan kemuliaan pribadi dan ketegaran ego serta konsep-konsep senada lainnya.
Menurut Ellis, memang ada alasan-alasan tertentu kenapa orang mengedepankan diri atau egonya, yaitu kita ingin menegaskan bahwa kita hidup dan dalam keadaan baik-baik saja, kita ingin menikmati hidup, dan lain se bagainya. Akan tetapi, jika hal ini dilihat lebih jauh lagi, ternyata mengedepankan diri atau ego sendiri malah me nyebabkan ketidaktenangan, seperti yang diperlihatkan oleh keyakinan-keyakinan irasional berikut ini:
– Aku ini punya kelebihan atau tak berguna.
– Aku ini harus dicintai atau orang yang selalu diperhatikan.
– Aku harus abadi.
– Aku harus jadi orang baik atau orang jahat.
– Aku harus membuktikan diriku.
– Aku harus mendapatkan apa pun yang saya inginkan.

Ellis berpendapat bahwa evaluasi-diri yang keterlaluan akan menyebabkan depresi dan represi, sehingga orang akan mengingkari perubahan. Yang harus dilakukan manusia demi kesehatan jiwanya adalah berhenti menilai-nilai diri sendiri. Ellis tampaknya agak skeptis akan keberadaan diri yang “sebenarnya” seperti yang diyakini Homey atau Rogers . Dia sangat tidak sepakat dengan gagasan tentang adanya konflik antara diri yang teraktualisasi dengan citra diri yang dituntut masyarakat. Menurutnya, diri me nurut seseorang dan diri menurut masyarakat bukannya saling bertentangan, sebaliknya saling topang.
Dia juga tidak sepakat dengan gagasan yang menyata kan bahwa ada kesatuan transpersonal daIam diri atau jiwa. Agama Buddha, umpamanya, bisa berjalan baik tanpa adanya gagasan ini. Dia juga tidak percaya akan adanya alam bawah sadar mistis seperti yang diajarkan berbagai tradisi atau psikologi transpersonal yang dikemukakan ilmu psikologi. Dia menganggap keadaan kejiwaan semacam ini lebih bersifat tidak otentik ketimbang transenden. Di lain pihak, dia menganggap pendekatannya lahir dari tradisi kuno kaum Stoik dan didukung oleh pemikiran filo sofis, terutama pemikiran Spinoza. Dia juga melihat adanya kemiripan tertentu antara pendekatannya dengan eksisten sialisme dan psikologis eksistensial. Artinya, pendekatan apa pun yang menempatkan tanggung jawab ke pundak diri individual beserta keyakinan yang dipegangnya lebih mirip dengan pendekatan RET-nya Ellis ini.

D. Deskripsi Proses Konseling
• Konseling rasional emotif dilakukan dengan menggunakan prosedur yang bervariasi dan sistematis yang secara khusus dimaksudkan untuk mengubah tingkah laku dalam batas-batas tujuan yang disusun secara bersama-sama oleh konselor dan klien.
• Tugas konselor menunjukkan bahwa masalahnya disebabkan oleh persepsi yang terganggu dan pikiran-pikiran yang tidak rasional serta usaha untuk mengatasi masalah adalah harus kembali kepada sebab-sebab permulaan.

Operasionalisasi tugas konselor :
(a) lebih edukatif-direktif kepada klien, dengan cara banyak memberikan cerita dan penjelasan, khususnya pada tahap awal mengkonfrontasikan masalah klien secara langsung;
(b) menggunakan pendekatan yang dapat memberi semangat dan memperbaiki cara berpikir klien, kemudian memperbaiki mereka untuk dapat mendidik dirinya sendiri dengan gigih dan berulang-ulang menekankan bahwa ide irrasional itulah yang menyebabkan hambatan emosional pada klien;
(c) mendorong klien menggunakan kemampuan rasional dari pada emosinya;
(d) menggunakan pendekatan didaktif dan filosofis menggunakan humor dan “menekan” sebagai jalan mengkonfrontasikan berpikir secara irasional.

Karakteristik Proses Konseling Rasional-Emotif :

1. Aktif-direktif, artinya bahwa dalam hubungan konseling konselor lebih aktif membantu mengarahkan klien dalam menghadapi dan memecahkan masalahnya.
2. Kognitif-eksperiensial, artinya bahwa hubungan yang dibentuk berfokus pada aspek kognitif dari klien dan berintikan pemecahan masalah yang rasional.
3. Emotif-ekspreriensial, artinta bahwa hubungan konseling yang dikembangkan juga memfokuskan pada aspek emosi klien dengan mempelajari sumber-sumber gangguan emosional, sekaligus membongkar akar-akar keyakinan yang keliru yang mendasari gangguan tersebut.
4. Behavioristik, artinya bahwa hubungan konseling yang dikembangkan hendaknya menyentuh dan mendorong terjadinya perubahan tingkah laku klien.
E. Teknik Konseling
Pendekatan konseling rasional emotif menggunakan berbagai teknik yang bersifat kogntif, afektif, dan behavioral yang disesuaikan dengan kondisi klien. Beberapa teknik dimaksud antara lain adalah sebagai berikut:

Teknik-Teknik Emotif (Afektif)
a. Assertive adaptive
Teknik yang digunakan untuk melatih, mendorong, dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan tingkah laku yang diinginkan. Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien.
b. Bermain peran
Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu.
c. Imitasi
Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model tingkah laku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan tingkah lakunya sendiri yang negatif.
Referensi:
Akhmad Sudratajat. 2008. Pendekatan Konseling Rasional Emotif. dalam http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/23/pendekatan-konseling-rasional-emotif/
DYP Sugiharto, Dr. , M.Pd. Pendekatan-Pendekatan Konseling. (Makalah)
Lutfi Seli Fauzi. 2008. Rational Emotive Therapy. dalam http://luthfis.wordpress.com/2008/04/03/rational-emotive-theraphy/
Sayekti Pujosuwarno, Dr, M.Pd. 1993. Berbagai Pendekatan dalam Konseling. Menara Mas Offset

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Rational Emotive Therapy (R.E.T)

Konseling Rational Emotive

(Albert Ellis) dikenal dengan Rational Emotive Therapy (R.E.T)

Salah satu teori utama mengenai kepribadian yang ditemukan oleh Albert Ellis dan para penganut Rational Emotive therapy dikenal dengan “Teori A-B-C-D-E). teori ini merupakan sentral dari teori dan praktek RET. Secara umu dijelaskan dalam bagan sebagai berikut :

Komponen Proses
A Activity / action / agent
Hal-hal, situasi, kegiatan atau peristiwa yang mengawaliatau yang mengerakkan individu. (antecedent or activating event) External event
Kejadian diluar atau sekitar individu
iB
rB Irrational Beliefs, yakni keyakinan-keyakinan irasional atau tidak layak terhadap kejadian eksternal (A)
Rational Beliefs, yakni keyakinan-keyakinan yang rasional atau layak dan secara empirik mendukung kejadian eksternal (A) Self verbalization
Terjadi dalam diri individu, yakni apa yang terus mnenerus ia katakan berhubungan dengan A terhadap dirinya
iC
rC Irrational Consequences, yaitu konsekuensi-konsekuensi yang tidak layak yang berasal dari (A)
Rational or reasonable Consequences, yakni konsekuensi-konsekuensi rasional atau layak yang dianggap berasal dari rB=keyakinan yang rasional Rational Beliefs, yakni keyakinan-keyakinan yang rasional atau layak secara empirik mendukung kejadian-kejadian eksternal (A)
D Dispute irrational beliefs, yakni keyakinan-keyakinan irasional dalam diri individu saling bertentangan (disputing) Validate or invalidate self-verbalization : yakni suatu proses self-verbalization dalam diri individu, apakah valid atau tidak.
CE Cognitive Effect of Disputing,yakni efek kognitif yang terjadi dari pertentangan (dispating) dalam keyakinan-keyakinan irasional. Change self-verbalization, terjadinya perubahan dalamverbalisasi dari pada individu.
BE Behavioral Effect of Disputing yakni efek dalam perilaku yang terjadi dalam pertentangan dalam keyakinan-keyakinan irasional diatas. Change Behavior, yakni terjadinya perubahan perilaku dalam diri individu

Tujuan konseling Rasional-Emotif

1. Memperbaiki dan merubah sikap, persepsi, cara berpikir, keyakinan serta pandangan-pandangan klien yang irasional dan tidak logis menjadi rasional dan logis agar klien dapat mengembangkan diri, meningkatkan self actualizationnya seoptimal mungkin melalui perilaku kognitif dan afektif yang positif.
2. Menghilangkan gangguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri seperti : rasa takut, rasa bersalah, rasa berdosa, rasa cemas, merasa was-was, dan rasa marah. Konselor melatih dan mengajar klien untuk menghadapi kenyataan-kenyataan hidup secara rasional dan membangkitkan kepercayaan, nilai-nilai dan kemampuan diri sendiri.

Albert Ellis (1973) memberikan gambaran tentang apa yang dapat dilakukan oleh praktisi rasional-emotive yaitu :
a. Mengajak, mendorong klien untuk menanggalkan ide-ide irasional yang mendasari gangguan emosional dan perilaku.
b. Menantang klien dengan berbagai ide yang valid dan rasional.
c. Menunjukkan kepada klien azas ilogis dalam berpikirnya.
d. Menggunakan analisis logis untuk mengurangi keyakinan-keyakinan irasional (irrational beliefs) klien.
e. Menunjukkan bahwa keyakinan-keyakinan irasional ini adalah inoperative dan bahkan hal ini pasti senantiasa mengarahkan klien pada gangguan-gangguan behavioral dan emosional.
f. Menggunakan absurdity dan humaor untuk menantang irasionalitas pemikiran klien.
g. Menjelaskan kepada klien bagaimana ide-ide irasional ini dapat ditempatkankembali dan disubtitusikan kepada ide-ide rasional yang harus secara empirik melatar belakangi kehidupannya.
h. Mengajarkan kepada klien bagaimana mengaplikasikan pendekatan-pendekatan ilmiah, obyektif dan logis dalam berpikir dan selanjutnya melatih diri klien untuk mengobservasi dan menghayati sendiri bahwaide-ide irasional dan deduksi-deduksi hanya kan membantu perkembangan perilaku dan perasaan-perasaan yang dapat menghambat perkembangan dirinya.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Pendekatan Konseling Client Centred

Pendekatan Konseling Client Centred
1. PRINSIP DASAR
a. Pandangan Tentang Sifat Manusia
Manusia dalam pandangan Rogers adalah bersifat positif. Ia mempercayai bahwa manusia memiliki dorongan untuk selalu bergerak ke muka, berjuang untuk berfungsi, kooperatif, konstrukstif dan memiliki kebaikan pada inti terdalam tanpa perlu mengendalikan dorongan-dorongan agresifnya. Filosofi tentang manusia ini berimplikasi dalam praktek terapi client centered dimana terapis meletakan tanggung jawab proses terapi pada client, bukan terapis yang memiliki otoritas. Client diposisikan untuk memiliki kesnggupan-kesangguapan dalam membuat keputusan.
Pendekatan konseling client centered menekankan pada kecakapan klien untuk menentukan isu yang penting bagi dirinya dan pemecahan masalah dirinya. Konsep pokok yang mendasari adalah hal yang menyangkut konsep-konsep mengenai diri (self), aktualisasi diri, teori kepribadian,dan hakekat kecemasan. Menurut Roger konsep inti konseling berpusat pada klien adalah konsep tentang diri dan konsep menjadi diri atau pertumbuhan perwujudan diri.
Terapi berpusat pada klien (Client Centered Teraphy) merupakan salah satu teknik alternatif dalam praktik pekerjaan sosial, terutama bagi terapis yang tidak begitu menguasai secara baik beberapa teori dan praktik pekerjaan sosial, walaupun begitu bukan berarti tanpa tantangan dan keahlian yang spesific. Beberapa teori dan praktik pekerjaan yang bersifat dasar tetap menjadi kebutuhan mutlak dalam teknik terapi ini. Tulisan ini akan berusaha menjelaskan tentang latarbelakang historis terapiclient centered, beberapa asumsi dasar, prinsip, tujuan dan teknik serta proses terapi client centered.

b. Latar Belakang Historis Terapi Client Centered
• Terapi Client Centered dipelopori oleh Carl R . Rogers sebagai reaksi terhadap apa yang disebutnya sebagai keterbatasan-keterbatasan mendasart dari psikoanalisis;
• Pada hakikatnya pendekatan Client Centered merupakan cabang khusus dari terapi Humanistik yang menggaris bawahi tindakan mengalami klien berikut duni subjektif dan fenomenalnya;

c. Beberapa Asumsi Dasar Terapi Client Centered

• Individu memiliki kapasitas untuk membimbing, mengatur, mengarahkan, dan mengendalikan dirinya sendiri apabila ia diberikan kondisi tertentu yang mendukung
• Individu memiliki potensi untuk memahami apa yang terjadi dalam hidupnya yang terkait dengan tekanan dan kecemasan yang ia rasakan.
• Individu memiliki potensi untuk mengatur ulang dirinya sedemikian rupa sehingga tidak hanya untuk menghilangkan tekanan dan kecemasan yang ia rasakan, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan diri dan mencapai kebahagiaan.

d. Prinsip-Prinsip dalam Terapi Client Centered
• Kita berperilaku sesuai dengan persepsi kita terhadap realitas. Berkaitan dengan hal ini, untuk memahami masalah klien, maka kita harus benar-benar memahami bagaimana ia mempersepsikannya.
• Kita termotivasi oleh dorongan primer bawaan lahir yang berupa dorongan untuk mengaktualisasikan diri. Secara otomatis individu akan mengembangkan potensinya dalam kondisi-kondisi yang mendukung. Kondisi-kondisi ini dapat diciptakan dalam terapi dan oleh karena itu, terapis harus bersikap nondirektif.
• Individu memiliki kebutuhan dasar akan cinta dan penerimaan. Dalam terapi, hal ini diterjemahkan sebagai adanya kebutuhan untuk fokus pada hubungan (antara terapis dan klien-red) dan pengkomunikasian empati, sikap menghargai, dan ketulusan dari terapis.
• Konsep diri individu bergantung pada penerimaan dan penghargaan yang ia terima dari orang lain. Konsep diri klien dapat ia ubah apabila ia mengalami penghargaan positif tanpa syarat (unconditional positive regard) dalam terapi.

2. KONSEP DASAR
a. Pandangan Menurut Rogers

CLIENT CENTERED (KONSELING BERPUSAT KLIEN) – Model konseling berpusat pribadi dikembangkan oleh Carl R. Rogers. Sebagai hampiran keilmuan merupakan cabang dari psikologi humanistik yang menekankan model fenomenologis. Konseling person-centered mula-mula dikembangkan pada 1940 an sebagai reaksi terhadap konseling psychoanalytic. Semula dikenal sebagai model nondirektif, kemudian diubah menjadi client-centered.

Carl R. Rogers mengembangkan terapi client-centered sebagai reaksi terhadap apa yang disebutnya keterbatasan-keterbatasan mendasar dari psikoanalisis. Terapis berfugsi terutama sebagai penunjang pertumbuhan pribadi seseorang dengan jalan membantunya dalam menemukan kesanggupan-kesanggupan untuk memecahkan masalah-masalah. Pendekatan client centered ini menaruh kepercayaan yang besar pada kesanggupan seseorang untuk mengikuti jalan terapi dan menemukan arahnya sendiri.

b. Ciri-Ciri Pendekatan Client Centered

Berikut ini uraian ciri-ciri pendektan Client Centered dari Rogers :
1. Client dapat bertanggungjawab, memiliki kesanggupan dalam memecahkan masalah dan memilih perliku yang dianggap pantas bagi dirinya.
2. Menekankan dunia fenomenal client. Dengan empati dan pemahaman terhadap client, terapis memfokuskan pada persepsi diri client dan persepsi client terhadap dunia.
3. Prinsip-prinsip psikoterapi berdasarkana bahwa hasrat kematangan psikologis manusia itu berakar pada manusia sendiri. Maka psikoterapi itu bersifat konstrukstif dimana dampak psikoteraputik terjadi karena hubungan konselor dan client. Karena hal ini tidak dapat dilakukan sendirian (client).
4. Efektifitas teraputik didasarkan pada sifat-sifat ketulusan, kehangatan, penerimaan nonposesif dan empati yang akurat.
5. Pendekatan ini bukanlah suatu sekumpulan teknik ataupun dogma. Tetapi berakar pada sekumpulan sikap dan kepercayaan dimana dalam proses terapi, terapis dan client memperlihatkan kemanusiawiannya dan partisipasi dalam pengalaman pertumbunhan.

3. TUJUAN PENDEKATAN TERAPI
Terdapat beberapa tujuan pendekatan terapi Client Centered yaitu sebagai berikut :
a. Keterbukaan pada Pengalaman
Sebagai lawan dari kebertahanan, keterbukaan pada pengalamam menyiratkan menjadi lebih sadar terhadap kenyataan sebagaimana kenyataan itu hadir di luar dirinya.
b. Kepercayaan pada Organisme Sendiri
Salah satu tujuan terapi adalah membantu klien dalam membangun rasa percaya terhadap diri sendiri. Dengan meningknya keterbukaan klien terhadap pengalaman-pengalamannya sendiri, kepercayaan kilen kepada dirinya sendiri pun muali timbul.
c. Tempat Evaluasi Internal
Tempat evaluasi internal ini berkaitan dengan kepercayaan diri, yang berarti lebih banyak mencari jawaban-jawaban pada diri sendiri bagi masalah-masalah keberadaannya. Orang semakin menaruh perhatian pada pusat dirinya dari pada mencari pengesahan bagi kepribadiannya dari luar. Dia mengganti persetujuan universal dari orang lain dengan persetujuan dari dirinya sendiri. Dia menetapkan standar-standar tingkah laku dan melihat ke dalam dirinya sendiri dalam membuat putusan-putusan dan pilihan-pilihan bagi hidupnya.
d. Kesediaan untuk menjadi Satu Proses.
Konsep tentang diri dalam proses pemenjadian merupakan lawan dari konsep diri sebagai produk. Walaupun klien boleh jadi menjalani terapi untuk mencari sejenis formula guna membangun keadaan berhasil dan berbahagia, tapi mereka menjadi sadar bahwa peretumbuhan adalah suatu proses yang berkesinambungan. Para klien dalam terapi berada dalam proses pengujian persepsi-persepsi dan kepercayaan-kepercayaannya serta membuka diri bagi pengalaman-pengalaman baru, bahkan beberapa revisi.
e. Tujuan Konseling
Tujuan Konseling dengan pendekatan Client Centered adalah sebagai berikut :
• Menciptakan suasana yang kondusif bagi klien untuk mengeksplorasi diri sehingga dapat mengenal hambatan pertumbuhannya .
• Membantu klien agar dapat bergerak ke arah keterbukaan, kepercayaanyang lebih besar kepada dirinya,keinginan untuk menjadi pribadi yang mandiri dan meningkatkan spontanitas hidupnya.
• menyediakan iklim yang aman dan percaya dalam pengaturan konseling sedemikian sehingga konseli, dengan menggunakan hubungan konseling untuk self-exploration, menjadi sadar akan blok/hambatan ke pertumbuhan.
• Konseli cenderung untuk bergerak ke arah lebih terbuka, kepercayaan diri lebih besar, lebih sedia untuk meningkatkan diri sebagai lawan menjadi mandeg, dan lebih hidup dari standard internal sebagai lawan mengambil ukuran eksternal untuk apa ia perlu menjadi.

4. HUBUNGAN KONSELOR DENGAN KLIEN

Konsep hubungan antara terapis dan client dalam pendekatan ini ditegaskan oleh pernyataan Rogers (1961) “jika saya bisa menyajikan suatu tipe hubungan, maka orang lain akan menemukan dalam dirinya sendiri kesanggupan menggunakan hubungan itu untuk pertumbuhan dan perubahan, sehingga perkembangan peribadipun akan terjadi. Ada enam kondisi yang diperlukan dan memadahi bagi perubahan kepribadian :
1. Dua orang berada dalam hubungan psikologis.
2. Orang pertama disebut client, ada dalam keadaan tidak selaras, peka dan cemas.
3. Orang kedua disebut terapis, ada dalam keadaan selaras atau terintegrasi dalam berhubungan.
4. Terapis merasakan perhatian positif tak bersyarat terhadap client.
5. terapis merasakan pengertian yang empatikterhadap kerangka acuan internal client dan berusaha mengkomunikasikan perasaannya ini kepad terapis.
6. Komunikasi pengertian empatik dan rasa hormat yang positif tak bersyarat dari terapis kepada client setidak-tidaknya dapat dicapai.

Ada tiga ciri atau sikap terapis yang membentuk bagian tengan hubungan teraputik :
Pertama, Keselarasana/kesejatian. Konsep kesejatian yang dimaksud Rogers adalah bagaimana terapis tampil nyata, utuh, otentik dan tidak palsu serta terinytgrasi selama pertemuan terapi. Terapis bersikap secara spontan dan terbuka menyatakan sikap-sikap yang ada pada dirinya baik yang positif maupun negatif. Terapis tidak diperkenankan terlibat secara emosional dan berbagi perasaan-perasaan secara impulsive terhadap client. Hal ini dapat menghambat proses terapi. Jelas bahwa pendekatan client centered berasumsi bahwa jika terapi selaras/menunjukkan kesejatiannya dalam berhubungan dengan client maka proses teraputic bisa berlangsung.
Kedua, Perhatian positif tak bersayarat. Perhatian tak bersayarat itu tidak dicampuri oleh evaluasi atau penilaian terhadap pemikiran-pemikiran dan tingkah laku client sebagai hal yang buruk atau baik. Perhatian tak bersyarat bkan sikap “Saya mau menerima asalkan…..melainkan “Saya menerima anda apa adanya”. Perhatian tak bersyarat itu seperti continuum. Semakin besar derajat kesukaan, perhatian dan penerimaan hangat terhadap client, maka semakin besar pula peluang untuk menunjung perubahan pada client.
Ketiga, Pengertian empatik yang akurat. Pada bagian ini merupakan hal yang sangat krusial, dimana terapis benar-benar dituntut untuk menggunakan kemampuan inderanya dalam berempati guna mengenali dan menjelajahi pengalaman subjektif dari client. Konsep ini menyiratkan terapis memahami perasaan-perasaan client yang seakan-akan perasaanya sendiri. Tugas yang makin rumit adalah memahami perasaan client yang samar dan memberikan makna yang makin jelas. Tugas terapis adalah membantu kesadaran client terhadap perasaan-perasaan yang dialami. Regers percaya bahwa apabila terapis mampu menjangkau dunia pribadi client sebagaimana dunia pribadi itu diamati dan dirasakan oleh client, tanpa kehilangan identitas dirinya yang terpisah dari client, maka perubahan yang konstruktif akan terjadi.

5. PROSES KONSELING
Proses-proses yang terjadi dalam konseling dengan menggunakan pendekatan Client Centered adalah sebagai berikut :
1. Konseling memusatkan pada pengalaman individual.
2. Konseling berupaya meminimalisir rasa diri terancam, dan memaksimalkan dan serta menopang eksplorasi diri. Perubahan perilaku datang melalui pemanfaatan potensi individu untuk menilai pengalamannya, membuatnya untuk memperjelas dan mendapat tilikan pearasaan yang mengarah pada pertumbuhan.
3. Melalui penerimaan terhadap klien, konselor membantu untuk menyatakan, mengkaji dan memadukan pengalaman-pengalaman sebelunya ke dalam konsep diri.
4. Dengan redefinisi, pengalaman, individu mencapai penerimaan diri dan menerima orang lain dan menjadi orang yang berkembang penuh.
5. Wawancara merupakan alat utama dalam konseling untuk menumbuhkan hubungan timbal balik.

Refrensi :
dikutip dari buku “Carl R. Rogers”
http://ewintri.co.cc/index.php/bimbingan-konseling/1-bimbingan-konseling/14-pendekatan-konseling-client-centred.html
from : http://eko13.wordpress.com/2011/04/14/pendekatan-konseling-client-centred/

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

soal – soal psikologi pendidikan

1.      Binatang apa yang digunakan dalam eksperimen dari teori Edward Lee Thorndike ?

a.       Kelinci

b. Kucing

c.       Ular

d.      Anjing

2.      Stimulus apa yang disediakan oleh Thorndike dalam eksperimenya ?

a.       Roti

b. Daging

c.       Susu

d.      Telur

3.      Suatu hukum yang menyatakan apabila latihan diulang – ulang maka hubungan stimulus dan respons akan semakin kuat, hukum tersebut adalah ?

a. The law of use

b.      The law of effect

c.       The law of disuse

d.      The law of readiness

4.      Berikut ini merupakan hukum – hukum belajar dari Thorndike, kecuali…..

a.       Hukum kesiapan ( the law of readiness )

b. Hukum bawaan atau keturunan

c.       Hukum latihan ( the law of exercise )

d.      Hukum akibat (the law of effect )

5.      Manusia dapat melakukan respon pada situasi yang belum dialaminya, pernyataan ini merupakan arti dari hukum tambahan Thorndike, yaitu….

a. Response by analogy

b.      Multiple respons

c.       Sikap

d.      Perpindahan asosiasi

6.      Thorndike teknenal dengan teorinya yang disebut dengan…….

a.       Teori Hierarki kebutuhan

b.      Teori  ego – super ego

c.       Teori psikologi analisis

d. Teori belajar koneksionisme

7.      Thorndike menyatakan bahwa asosiasi antara stimulus dan respons akan melemah bila latihan dihentikan, hukum tersebut adalah ?

a.       The law of  readiness

b.      The law of effect

c. The law of disuse

d.      The law of use

8.      Dibawah ini yang bukan merupakan tokoh aliran behavioristik adalah……..

a. Carl Rogers

b.      Thorndike

c.       Skinner

d.      Waston

9.      Bila seseorang siap untuk melakukan suatu tingkah laku, tapi tingkah laku tersebut tidak terlaksana, maka akan menimbulkan kekecewaan baginya, sehingga menyebabkan dilakukan tingkah laku lain untuk mengurangi kekecewaanya. Pernyataan ini merupakan rumus dari salah satu hukum…..

a. Hukum kesiapan

b.      Hukum latihan

c.       Hukum akibat

d.      Hukum latihan ditinggalkan

10.  Yang merupakan hukum tambahan dari thorndike, yaitu …..

a.       Hukum latihan ditinggalkan

b.      Hukum akibat

c. Perpindahan asosiasi

d.      Spread of effect

1.      Dalam percobaan Skinner, tikus yang digunakan adalah tikus yang dalam keadaan…

a. dalam keadaan lapar.

b.      dalam keadaan stress.

c.       dalam keadaan normal.

d.      dalam keadaan sakit.

2.      Fungsi diberikannya aliran listrik dalam Skinner box…

a.       untuk memberikan penerangan.

b. untuk memberikan hukuman.

c.       untuk memberikan hadiah.

d.      untuk memberikan terapi.

3.      Menurut skinner hukuman justru menimbulkan efek yang tidak baik, yaitu kecuali…

a.       Berefek negatif pada segi emosi.

b.      Kadang-kadang menimbulkan sakit jasmani.

c. Tidak menimbulkan agresifitas.

d.      Bila sesuatu aktivitas diberikan hukuman, maka tingkah laku tersebut selalu diberi hukuman agar konsekuen.

4.      Pengkondisian operant banyak dilakukan dalam…

a.       Setting klinis (modifikasi perilaku).

b.      Mengajar (manajemen kelas).

c.       Pengembangan pembelajaran (pembelajaran yang diprogramkan).

d. Pemberikan hukuman.

5.      Bukti untuk membentuk perilaku harus diberi materi yang dibagi dalam bagian-bagian yang sedikit disebut…

a. Mastery learning

b.      Fixed internal

c.       Continuous schedule

d.      Spontanaeous recovery

6.      Menurut Skinner, bagaimana jadwal pemberian hadiah yang baik untuk pendidikan…

a.       Fixed interval

b.      Variable interval

c. Variable ratio

d.      Fixed ratio

7.      Conditioning yang menitik beratkan pada respon adalah…

a.       Reflex conditioning

b.      Responden conditioning

c. Operant conditioning

d.      Stimulus conditioning

8.      Conditioning yang menitik beratkan pada stimulus adalah…

a.       Reflex conditioning

b. Responden conditioning

c.       Operant conditioning

d.      Stimulus conditioning

9.      Di bawah ini adalah bentuk-bentuk penguatan, kecuali…

a.       Pujian verbal.

b.      Prestasi.

c.       Hadiah.

d.      Kepuasan.

10.  Pada responden conditioning, hal apa yang lebih dititikberatkan…

a.       Stimulus.

b.      Respon.

c.       Reward.

d.      Hukuman.

1.      Dibawah ini termasuk tokoh gestalt, kecuali :

a. B. F. Skinner

b.      Max Wertheimer

c.       Koffka

d.      Wolfgang Kohler

2.      Secara umum, gestalt dapat diartikan sebagai berikut :

a.       Teori yang mengusung pentingnya hukuman atau ganjaran dalam pembelajaran

b. Keseluruhan yang lebih berarti dari bagian-bagian

c.       Pandangan yang mengesampingkan pentingnya belajar pemahaman

d.      Teori yang mempunyai tujuan belajar untuk memanusiakan manusia

3.      Suatu konsep dasar yang penting dalam psikologis gestalt adalah :

a.       Stimulus

b.      Driil

c. Insight

d.       Exercise

4.      Hal-hal yang berkesinambungan cenderung membentuk gestalt, merupakan bunyi dari hukum :

a.       Pragnanz

b.      Kesamaan

c.       Kecenderungan

d. Kontinuitas

5.      1. Tongkat

2. Tombol

3. Kotak

4. lantai yang dapat dialiri listrik

Pada eksperimen gestalt, simpanse mengambil pisang dibantu dengan alat :

a.       1 dan 2

b.      2 dan 3

c.       3 dan 4

d. 1 dan 3

6.      Dibawah ini hal-hal yang mempengaruhi pemahaman seseorang, kecuali :

a.       Kemampuan dasar seseorang

b. Pengalaman masa depan yang relevan

c.       Pengaturan situasi yang dihadapi

d.      Pemahaman didahului oleh periode coba-coba

7.      1. Realisasi adanya masalah

2. menilai dan mencobakan usaha pembuktian hipotesa

3. mengumpulkan data

4. mengajukan hipotesa

5. mengambil kesimpulan

Dari data diatas urutan upaya pemecahan sebuah masalah adalah :

a.       1, 2, 3, 4 ,5

b.      1, 3, 5, 2, 4

c. 1, 4, 3, 2, 5

d.      4, 2, 3, 1, 5

8.      Aplikasi teori gestalt dalam proses pembelajaran adalah kemampuan tilikan, yang berati :

a. Kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa

b.      Kemampuan pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain

c.       Kemampuan menyadari tujuan pembelajaran

d.      Kemampuan menguraikan cerita pendek menjadi kata-kata

9.      Belajar menurut menurut teori belajar kognitif selalu didasarkan pada kognisi, yaitu :

a. Proses perubahan tingkah laku sebagai akibat adanya interaksi  antara stimulus dengan respons

b. Tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana tingkah laku itu terjadi

c.       Tindakan memanusiakan manusia

d.      Semua benar

10.  – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

Bila memperhatikan tanda “ ~ “ diatas kita dapat menarik kesimpulan bahwa tanda itu membentuk baris horisontal, hal ini sesuai dengan hukum :

a.       Kedekatan

b.      Ketertutupan

c.       Kesinambungan

d. Kesamaan

1.      Kurt Lewin merupakan seorang yang kelahiran Polandia yang menganut psikologi .  .  .

a.       Gestalt

b.      Pendidikan

c.       Perkembangan

d. Eksperimental

2.      Berkolaborasi dengan siapakah Lewin dalam menghasilkan eksperimen kepemimimpinan kelompok.  .  .

a.       Adolf Hitlerl

b. Ronald Lippitt

c.       Alex  Bavelas

d.      Ernst  Cassier

3.      Psikologi kognitif menurut Kurt Lewin merupakan perpaduan antara.  .  .

a.     Psikologi Behaviorisme dan Psikologi Kontruktivisme

b. Psikologi Behaviorisme dan Psikologi Gestalt

c.     Psikologi Medan dan  Psikologi Operant Conditioning

d.    Psikologi Humanisme dan Psikologi Medan

4.      Teori medan yang dikembangkan oleh Lewin memiliki kesamaan dengan Gestalt yaitu.  .  .

a. Belajar adalah pemecahan masalah

b.      Belajar adalah hasil perilaku individu

c.       Belajar adalah pengaruh lingkungan

d.      Belajar adalah pengaruh motivasi

5.      Berikut ini adalah ciri pembelajaran dalam pandangan kognitif,  kecuali.  .  .

a.       Menyediakan pengalaman belajar

b.      Menyediakan berbagai alternatif  pengalaman belajar

c.       Mengintegrasikan pembelajaran sehingga terjadi interaksi dan kerjasama yang antara siswa dengan guru

d. Melibatkan siswa secara fisik sehingga siswa menjadi tertarik dan mau belajar

6.      Menurut Lewin hasil belajar dipengaruhi oleh .  .  .

a.       Sarana belajar dan lingkungan

b.      Individu dan motivasi

c. Individu dan lingkungan

d.      Sarana belajar dan motivasi

7.      Di bawah ini yang bukan merupakan misi dari pemerolehan pengetahuan melalui strategi pembelajaran kognitif kognitif medan adalah.  .  .

a. Mencari informasi

b.      Menganalisis informasi

c.       Mengolah informasi

d.      Pemecahan informasi

8.      Tujuan pendidikan menurut teori belajar kognitif medan adalah sebagai berikut, kecuali.  .  .

a.       Menghasilkan individu yang mempunyai kemampuan berfikir yang kritis

b.      Kurikulum dirancang agar tercipta situasi yang kondusif

c.       Peserta didik selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai

d. Peserta didik hanya pasif menunggu arahan dari guru

9. Dalam pembelajaran kognitif medan, yang menjadi pusat pembelajaran adalah.  .  .

a.       Guru

b. Siswa

c.       Buku

d.       Sekolah

10. Contoh pembelajaran yang sesuai untuk menerapkan teori kognitif medan antara lain seperti berikut, kecuali. . .

a.       Mengarang

b.      Menganalisis isi buku

c. Mendengarkan ceramah guru

d.      Observasi

1.      Siapakah tokoh dibawah ini yang menerangkan teori pemrosesan informasi

a.       Piaget

b.      Maslow

c. Robert Gagne

d.      Freud

2.      Apakah yang dimaksud dengan kondisi eksternal yang mempengaruhi hasil belajar

a.       Keadaan dalam diri individu untuk mencapai hasil belajar

b.      Rangsangan berupa niat yang membuat orang ingin mencapai hasil belajar

c. Pengaruh dari luar yang mempengaruhi individu dalam proses belajar

d.      Pengaruh dari motivasi diri yang membuat individu mencapai tujuan belajar

3.      Manakah yang bukan merupakan fase utama dalam proses belajar

a.       Fase Receiving the stimulus situation

b.      Fase Stage of Acquition,

c.       Fase storage /retensi

d. Fase distribusi

4.      Disebut fase apakan disaat siswa harus memanggil kembali memori ketika dulu

a. Fase Retrieval/Recall,

b.      fase motivasi

c.       fase umpan balik,

d.      fase generalisasi

5.      apakah yang disebut dengan fase umpan balik

a.       fase dimana siswa menampilkan sesuatu setelah melihat sesuatu yang lain

b. siswa harus diberikan umpan balik dari apa yang telah ditampilkan

c.       fase mengingat kembali atau memanggil kembali informasi yang ada dalam memori

d.      guru memberikan motivasi kepada siswa untuk belajar,

6.      berikut beberapa kemampuan sebgai hasil dari belajar

a. Verbal Information, Intellectual skills, Attitudes

b.      Motor skills, reformasi, Attitudes

c.       Motor skills , evolusi, Verbal Information

d.      Intellectual skills, evakuasi, Cognitive strategies

7.      Dibawah ini yang bukan termasuk dalam strategi kognitif adalah

a.       strategi menghafal

b.      strategi pengaturan

c.       strategi metakognitif,

d. strategi ketergantungan

8.      apa yang dimaksud dengan signal learning

a. Proses belajar melalui pengalaman-pengalaman menerima suatu isyarat tertentu untuk melakukan tindakan tertentu

b.      respon tertentu yang diakibatkan oleh suatu stimulus tertentu yang kemudian akan memeberikan respon.

c.       Mengenal suatu bentuk-bentuk tertentu dan menghubungkan bentuk-bentuk rangkaian verbal tertentu

d.      Memecahkan masalah merupakan suatu pekerjaan yang biasa yang dilakukan manusia

9.      Berikut ini yang bukan termasuk type pembelajaran

a. Signal learning (belajar isyarat)

b. Stimulus-response learning (belajar melalui stimulus-respon)

c. Discrimination learning (belajar diskriminasi)

d. Present the content (menyajikan stimuli)

10. Robert gagne merupakan tokoh dalam teori

a.       Behaviorisme

b. Kognitivisme

c.       Humanism

d.      konstruktivisme

1.      Kontribusi utana Maslow dengan psikologi adalah…..

a.       Struktur dasar kepribadian

b. Tangga/piramida kebutuhan dasar

c.       Penekanan pada identitas

d.      Perluasan metode psikoanalisis

2.      Kebutuhan yang diletakkan paling bawah dalam hierarki kebutuhan Maslow adalah…

a.       Kebutuhan akan rasa aman

b.      Kebutuhan aktualisasi diri

c. Kebutuhan fisik

d.      Kebutuhan untuk dicintai dan disayangi

3.      Salah satu contoh kebutuhan akan penghargaan atau pengakuan yang berada pada level atas adalah…

a. Kebebasan

b.      kemahsyuran

c.       Perhatian

d.      Reputasi

4.      Salah satu contoh kebutuhan akan penghargaan atau pengakuan yang berada pada level bawah adalah…

a.       Kecakapan

b.      Keterampilan

c.       Kemampuan khusus (spesialisasi)

d. Kebanggaan diri

5.      Berikut ini yang bukan termasuk kualifikasi yang mengindikasikan karakteristik pribadi-pribadi yang telah beraktualisasi adalah….

a.       Memusatkan diri pada realitas

b. Rasa humor yang “agresif”

c.       Spontanitas

d.      Otonomi pribadi

6.      Yang dimaksud Peak experience adalah….

a.       Pengalaman pribadi

b.      Pengalaman berbicara

c. Pengalaman spiritual

d.      Pengalaman kemanusiaan

7.      Yang merupakan puncak kebutuhan hidup yang paling tinggi menurut Maslow adalah…

a. Aktualisasi diri

b.      Rasa aman

c.       Kebutuhan fisiologis

d.      Kebutuhan akan dicintai dan disayangi

8.      Adanya ekspektasi yang konsisten merupakan salah satu contoh dari pemenuhan….

a.       Kebutuhan harga diri

b. Kebutuhan rasa aman

c.       Kebutuhan kasih sayang atau penerimaan

d.      Pengetahuan dan pemahaman

9.      Sikap empatik,peduli dan interest terhadap sesama merupakan salah satu contoh dari pemenuhan….

a.       Kebutuhan harga diri

b.      Kebutuhan rasa aman

c. Kebutuhan kasih sayang atau penerimaan

d.      Pengetahuan dan pemahaman

10.  Yang tidak termasuk pemenuhan kebutuhan aktualisasi diri adalah…

a.       Memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan yang terbaik

b.      Menciptakan pembelajaran yang bermakna dikaitkan dengan kehidupan nyata

c.       Melibatkan siswa dalam kegiatan “self expressive” dan kreatif

d. Mengembangkan strategi pembelajaran yang bervariasi

1.      Dalam cooperative-learning siswa akan mencapai tujuan apabila siswa yang lain juga mencapai tujuan tersebut artinya tujuan akan secara bersama-sama dicapai apabila dalam sejumlah siswa sama-sama . . .

a. Ikut andil untuk sama – sama mencapai tujuan.*

b.      Ikut merasakan untuk  sama – sama mencapai tujuan.

c.       Ikut belajar untuk sama – sama mencapai tujuan.

d.      Ikut andil untuk mencapai tujuan dirinya sendiri.

2.      Penghargaan kooperatif juga diberikan karena usaha  . . .

a.       Usaha bersama.

b.      Usaha tiap individu.

c.       Usaha kelompok bagian.

d. Usaha bersama tiap individu dalam kelompok.*

3.      Sebelumnya siswa tersebut diberi penjelasan atau diberi pelatihan tentang bagaimana dapat bekerja sama yang baik dalam hal, kecuali . . .

a.       Bagaimana menjadi pendengar yang baik

b.      Bagaimana memberi penjelasan yang baik

c.       Bagaimana cara mengajukan pertanyaan dengan benar dan lain-lainnya

d. Bagaimana nilai yang didapat*

4. Menurut Johnson & Johnson, dan Sharan, komponen-komponen penting dari pembelajaran kooperatif berikut ini adalah salah kecuali . . .

a.       Ketergantungan negatif

b.      Interaksi promotif tidak langsung

c. Pemrosesan kelompok*

d.      Keterampilan-keterampilan pribadi

5.      Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur model pembelajaran gotong royong harus diterapkan kecuali . . .

a.       Saling ketergantungan Positif

b.      Tanggung Jawab Perseorangan

c.       Kornunikasi Antar Anggota

d. Evaluasi Proses individu*

6.      Langkah – langkah dalam menjalankan kooperatif learning setelah menentukan ketergantungan positif yaitu . . .

a.       memilih tugas yang tepat

b. memfasilitasi kerjasama kooperatif*

c.       memberikan interaksi promotif

d.      menentukan akuntabilitas individu dan kelompok

7.      Langkah – langkah dalam menjalankan kooperatif learning yang lain sebelum , evaluasi yaitu . . .

a.       menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa

b.      mengorganisasikan siswa dalam kelompok

c. membimbing kelompok bekerja dan belajar*

d.      memberikan penghargaan.

8.      Keputusan guru dalam penataan ruang disesuaikan dengan kondisi dan situasi ruang kelas dan sekolah. Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan adalah, kecuali . . .

a.       Ukuran ruang kelas

b.      Tingkat kedewasaan siswa.

c.       Toleransi guru dan kelas sebelah terhadap kegaduhan dan lalu lalangnyasiswa

d. kegaduhan dan lalu lalangnya siswa lain*

9.      Empat pendekatan yang seharusnya merupakan bagian dari kumpulan strategi pengajar pemula adalah sebagai berikut salah kecuali . . .

a. STAD dan JIGSAW*

b.      INVESTIGASI KELOMPOK dan KOGNITIF

c.       PENDEKATAN STRUKTURAL dan SELF-INITIATED LEARNING

d.      SELF-INITIATED LEARNING dan STAD

10.  Cooperative Learning termasuk ke dalam teori belajar . . . .

a.       Konstruktivisme

b. Humanisme*

c.       Kognitivisme

d.      Behaviorisme

11.  Untuk mempelajari dengan teori apakah materi yang akan diajarkan secara alami dapat dibagi menjadi beberapa bagian (sub-topik) ?

a. Jigsaw*

b.      STAD

c.       Game Competition

d.

12.  Model pembelajaran yang bisa dan harus dipakai ada tiga pilihan model, yaitu kecuali

a.       Kompetisi dan cooperative

b.      Cooperative dan individual

c. Individual dan individual*

d.      Kompetisi dan individual

13.  Cooperative Learning mengacu pada kelompok kecil yang melibatkan siswa dalam kelompok yang terdiri dari  . . . .  siswa yang mempunyai kemampuan yang berbeda.

a.       1  siswa

b.      2 – 3 siswa

c. 4 – 6 siswa*

d.      ≥7 siswa

14.  Teori belajar Cooperative Learning dipopulerkan oleh . . .

a. Robert Slavin*

b.      Carl Roger

c.       Gagne

d.      Maslow

15.  Perbedaan antara teknik pendekatan STAD dengan Jigsaw yaitu . . .

a. STAD sistemnya dengan kompetisi, sedang Jigsaw dengan tutor/ tutor sebaya.*

b.      Jigsaw sistemnya dengan kompetisi, sedang STAD dengan tutor/ tutor sebaya.

c.       Jigsaw sistemnya mengerjakan proyek penelitian, STAD dengan kompetisi.

d.      STAD jumlah siswanya lebih banyak daripada Jigsaw.

16.   Pada tahapan pembentukan kelompok pada TGT yang sifatnya . . .

a. Heterogen*

b.      Homogen

c.       Biseksual

d.      Heterogen dan homogen

17.  Dalam tahapan belajar kelompok pada TGT, media yang digunakan untuk menyiapkan anggota kelompok agar dapat mengerjakan soal – soal yaitu . .

a.       LCD

b.      Lembar kertas

c. LKS*

d.      Buku paket

18.  Penentuan rangking dalam teknik belajar kooperative learning terdapat pada teknik . . . .

a.       Jigsaw

b. TGT*

c.       STAD

d.      Group Invistigation

19.  Penempatan anggota yang terdapat dalam teknik cooperative learning berdasarkan tingkat kinerja, jenis kelamin, suku merupakan ciri dari . . .

a.       Group Invistigation

b.      Jigsaw

c.       TGT

d. STAD*

20.  Teknik belajar Jigsaw dikembangkan oleh . . .

a.       Maslow

b. Elliot Aronson*

c.       Slavin

d.      Carl Roger

1.       Dimanakah Jean Piaget dilahirkan?

a. swiss

b.      amerika

c.       firlandia

d.      belanda

e.       china

2.       Piaget menjelaskan tentang teori apa?

a. psikoanalitik

b.      kognitif

c.       humanistik

d.      behaviorisme

e.       ethology

3.       Apa definisi teori kognitif secara singkat?

a. penggunaan pengetahuan

b.      penilaian pengetahuan

c.       penggunaan diri

d.      penilaian diri

e.       mengatur emosi

4.       Teori Piaget didasarkan pada pengamatannya terhadap. . .

a. anak-anaknya

b.      simpanse

c.       burung

d.      tikus

e.       kucing

5.       Sebutkan 3 aspek intelegensi!

a. struktur, isi, fungsi

b.      definisi, isi, akomodasi

c.       isi, akomodasi, asimilasi

d.      definisi, isi, fungsi

e.       akomodasi, asimilasi,transisi

6.       Apa yang dimaksud dengan equilibrium?

a. Keseimbangan

b.      Ketidak seimbangan

c.       kemauan

d.      motivasi

e.       perubahan

7.       4 faktor yang mempengaruhi transisi tiap perkembangan anak adalah. . .

a.       akomodasi, asimilasi, equilibrium, dan disequilibrium

b.      sensori motor, pra operasional,  operasional konkrit, dan operasional formal

c.       equilibrium, disequilibrium, sensori motorik, dan  sensori pra operasional

d. kematangan, pengalaman fisik/ lingkungan, transmisi social, dan equilibrium

e.       keluarga, lingkungan sosial, pergaulan, dan kematangan diri

8.       Tahap perkembangan kognitif operasional konkrit yaitu pada usia. . .

a.       0 – 2 tahun

b.      2 – 7 tahun

c. 7 – 11 tahun

d.      11 tahun keatas

9.       Anak telah memiliki simbol matematis tetapi belum dapat menghadapi hal-hal yang abstrak, tahap perkembangan ini terjadi pada tahap. . .

a.       sensori motor

b.      pra operasional

c. operasi konkrit

d.      operasi formal

e.       equilibrium

10.   Apa ciri nyata dari anak pada tahap operasional konkrit?

a.       anak timbul perkembangan kognitifnya tetapi hanya sebatas pada  benda yang dilihatnya

b. anak mampu memahami bentuk argumen dan tidak dibingungkan pada argumen tersebut

c.       anak beum mempunyai konsepsi tentang objek yang tetap

d.      anak dapat mengetahui simbol-simbol sistematis tapi belum dapat menghadapihal-hal yang abstrak

1.Sebutkan dua tipe belajar menurut Rogers?

a)      Kognitif dan pemrosesan informasi

b) Kognitif dan Experiental

c)       Pembelajaran kooperatif dan experiental

d)      Experiental dan pengkondisian klasik

2.Bagaimanakah pandangan rogers terhadap manusia?

a) Rogers memandang bahwa semua manusia itu baik

b)      Rogers memandang bahwa manusia akan merespon ketika ada stimulus

c)       Rogers memandag bahwa manusia termotivasi dari luar

d)      Rogers memendang bahwa semakin manusia melakukan ketrampilan maka akan semakin bias

3.Menghargai bersyarat biasa disebut juga dengan?

a)      Unconditional positive regard

b)      Operant conditioning

c)       Conditioning Stimulus

d) Conditional positive regard

 

4.Menurut Rogers dibawah ini adalah cirri-ciri guru yang fasilitatif,kecuali

a)      Merespon perasaan siswa

b) Memberi hukuman ketika murid bersalah

c)      Berdialog dan berdiskusi dengan siswa

d)      Menghargai dan tersenyum pada siswa

 

5.Proses pendidikan yang memberikan kesempatan kepada murid untuk bergerak secara bebas disekitar kelas dan memilih aktivitas belajar sendiri,disebut proses?

a)      Pembelajaran kooperatif

b)      Pembelajaran kolaboratif

c) Pendidikan terbuka(open education)

d)      Pembelajaran kompetitif

6.Belajar yang berarti bagi siswa adalah

a) Belajar yang bermakna dan sesuai kebutuhan siswa

b)      Belajar  dalam kondisi yang tidak tertekan

c)       Belajar dengan rasa ingin tahu yang tinggi

d)      Belajar yang melibatkan perasaan

 

7.Dibawah ini yang tidak termasuk kemampuan para guru yang dikembangkan Rogers dan diteliti oleh Aspy dan Roebuck untuk menciptakan kondisi yang mendukung adalah

a)      Empati

b)      Penghargaan

c) Simpati

d)      Umpan balik positif

8.Proses pendidikan yang memberikan kesempatan kepada murid untuk bergerak secara bebas didepan kelas dan memilih aktivitas belajar sendiri merupakan pengertian dari?

a)      Pendidikan tertutup

b) Pendidikan terbuka

a.       c)       Pendidikan tradisional

b.      d)      Pendidikan modern

 

9.Dibawah ini merupakan cirri-ciri guru yang fasilitatif,kecuali

a)      Merespon perasaan siswa

b)      Memberi hukuman ketika murid bersalah

c)      Berdialog dan berdiskusi dengan siswa

d)      Menghargai dan tersenyum pada siswa

10.Belajar atas inisiatif sendiri bagi siswa adalah

a)      Belajar yang melibatkan perasaan dan pikiran si pelajar

b)      Belajar yang bermakna dan sesuai dengan kebutuhan siswa

c)       Belajar dengan rasa ingin tahu yang tinggi

d)      Belajar dalam kondisi yang tidak tertekan

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Cooperative Learning – Slavin

robert slavinRobert Slavin adalah seorang psikolog pendidikan terkemuka dan Direktur Institute for Efektif Pendidikan di New York University. Ia juga Direktur Pusat Data-Driven Reformasi Pendidikan di Johns Hopkins University dan tenaga pendorong di belakang berbasis Sukses AS untuk Semua Foundation, sebuah program restrukturisasi yang membantu sekolah untuk mengidentifikasi dan menerapkan strategi yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan semua pelajar.

Robert Slavin menerima gelar BA dalam Psikologi dari Reed College pada tahun 1972, dan PhD dalam Hubungan Sosial pada tahun 1975 dari Universitas Johns Hopkins. Dia telah menulis atau turut menulis lebih dari 200 artikel dan 20 buku, termasuk Psikologi Pendidikan: Teori ke Praktek (Allyn & Bacon, 1986, 1988, 1991, 1994, 1997, 2000, 2003, 2006), Pembelajaran Kooperatif: Teori, Penelitian , dan Praktek (Allyn & Bacon, 1990, 1995), Show Me Bukti: dan Menjanjikan Program Terbukti untuk Sekolah Amerika (Corwin, 1998), Program Efektif untuk Siswa Latino (Erlbaum, 2000), dan Satu Juta Anak-anak: Sukses untuk Semua (Corwin, 2001).

Profesor Slavin menerima American Educational Research Association Raymond B Cattell Dini Award Karir untuk Programatik Penelitian di tahun 1986, Palmer O Johnson Award untuk artikel terbaik dalam jurnal AERA pada tahun 1988, Charles A Dana Award pada tahun 1994, James Bryant Conant Award dari Komisi Pendidikan Amerika pada tahun 1998, Pimpinan Posisi di Penghargaan Pendidikan dari Horace Mann Liga pada tahun 1999, dan Distinguished Award Layanan dari Dewan Kepala Sekolah Pejabat Negara pada tahun 2000.

 

TEORI

Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham konstruktivis. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan beberapa siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.

Sedangkan menurut Slavin  pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok, siswa dalam satu kelas dijadikan kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4 sampai 5 orang untuk memahami konsep yang difasilitasi oleh guru. Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran dengan setting kelompok-kelompok kecil dengan memperhatikan keberagaman anggota kelompok sebagai wadah siswa untuk bekerjasama dan memecahkan suatu masalah melalui interaksi sosial dengan teman sebayanya, memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mempelajari sesuatu dengan baik pada waktu yang bersamaan dan ia menjadi narasumber bagi teman yang lain.

Tujuan pembelajaran kooperatif berbeda dengan kelompok tradisional yang menerapkan sistem kompetisi, di mana keberhasilan individu diorientasikan pada kegagalan orang lain. Sedangkan tujuan dari pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi di mana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya (Slavin, 1994).

Adapun teknik cooperative learning ada empat macam, yaitu :

  1. Team-Games-Tournament (TGT)
  2. Student Teams-Achievement Divisions (STAD)
  3. Jigsaw
  4. Group Investigation

 

Team-Games-Tournament (TGT)

Pembelajaran kooperatif tipe TGT adalah suatu pembelajaran dimana setelah kehadiran guru, siswa pindah kekelompoknya masing-masing untuk saling membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan dari materi yang diberikan. Sebagai ganti dari tes tertulis, setiap siswa akan bertemu seminggu sekali pada meja turnamen dengan dua rekan dari kelompok lain. Tiga siswa dalam setiap turnamen akan saling bersaing. Mereka menjawab satu pertanyaan yang sama, yang telah dibahas bersama-sama dalam kelompoknya. Dengan cara ini setiap siswa berkesempatan menyumbangkan skor sebanyak-banyaknya untuk kelompoknya.

 

Tahap-tahap (skenario) yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran kooperatif tipe TGT adalah sebagai berikut :

a. Pembentukan kelompok

Kelas dibagi atas kelompok-kelompok kecil terdiri dari 4-5 siswa. Perlu diperhatikan bahwa setiap kelompok mempunyai sifat heterogen dalam hal jenis kelamin dan kemampuan akademik. Sebelum materi pelajaran diberikan kepada siswa dijelaskan bahwa mereka akan bekerjasama dalam kelompok selama beberapa minggu dan memainkan permainan akademik untuk menambah poin bagi nilai kelompok mereka, dan bahwa kelompok yang nilainya tinggi akan mendapat penghargaan.

b. Pemberian materi

Materi pelajaran mula-mula diberikan melalui presentasi kelas, berupa pengajaran langsung atau diskusi bahan pelajaran yang dilakukan guru, menggunakan audiovisual. Materi pengajaran dalam TGT dirancang khusus untuk menunjang pelaksanaan turnamen. Materi ini dapat dibuat sendiri dengan jalan mempersiapkan lembaran kerja siswa.

c. Belajar kelompok

Kepada masing-masing kelompok diberikan untuk mengerjakan LKS yang telah disediakan. Fungsi utama kelompok ini adalah memastikan semua anggota kelompok belajar, dan lebih khusus lagi untuk menyiapkan anggotanya agar dapat mengerjakan soal-soal latihan yang akan dievaluasi melalui turnamen. Setelah guru memberikan materi I, kelompok bertemu untuk mempelajari lembar kerja dan materi lainnya. Dalam belajar kelompok, siswa diminta mendiskusikan masalah secara bersama-sama, membandingkan jawabannya, dan mengoreksi miskonsepsi jika teman satu kelompok membuat kesalahan.

d. Turnamen

Turnamen dapat dilaksanakan tiap bulan atau tiap akhir pokok bahasan. Untuk melaksanakan turnamen, langkahnya adalah sebagai berikut:

(1) membentuk meja turnamen, disesuaikan dengan banyaknya siswa pada setiap kelompok

(2) menentukan rangking (berdasarkan kemampuan) setiap siswa pada masing-masing kelompok

(3) menempatkan siswa dengan rangking yang sama pada meja yang sama

(4) masing-masing siswa pada meja turnamen bertanding untuk mendapatkan skor sebanyak-banyaknya

(5) skor siswa dari maasing-masing kelompok dikumpulkan, dan ditentukan kelompok yang mempunyai jumlah kumulatif tertinggi sebagai pemenang pertandingan.

e. Skor individu

Skor individu adalah skor yang diperoleh masing-masing anggota dalam tes akhir.

f. Skor kelompok

Skor kelompok diperoleh dari rata-rata nilai perkembangan anggota kelompok. Nilai perkembangan adalah nilai yang diperoleh oleh masing-masing siswa dengan membandingkan skor pada tes awal dengan skor pada tes akhir. Perhitungan nilai perkembangan sama dengan pada tipe STAD.

g. Penghargaan

Segera setelah turnamen, hitunglah nilai kelompok dan siapkan sertifikat kelompok untuk menghargai kelompok bernilai tinggi. Keberhasilan nilai kelompok dibagi dalam 3 tingkat penghaargaan, sama seperti pada tipe STAD.

 

Student Teams_Achievment Division (STAD)

STAD merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, sehingga tipe ini dapat digunakan oleh guru-guru yang baru mulai menggunakan pendekatan pembelajaran kooperatif. Menurut Slavin (2000), dalam STAD siswa ditempatkan dalam kelompok belajar beranggotakan empat orang yang merupakan campuran menurut tingkat kinerja, jenis kelamin, dan suku.

Sintaks Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD

Fase Tingkah Laku Guru

Fase-1

– Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa

– Guru menyampaikan tujuan pembelajaran (atau indikator hasil belajar)

– Guru memotivasi siswa

– Guru mengkaitkan pelajaran sekarang dengan yang terdahulu

Fase-2

– Menyajikan informasi

– Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bacaan

Fase-3

– Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar

– Guru menjelaskan kepada siswa cara membentuk kelompok belajar

– Guru mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok–kelompok belajar

(Setiap kelompok beranggotakan 4-5 orang dan harus heterogen terutama jenis kelamin dan kemampuan siswa)

Fase-4

– Membimbing kelompok bekerja dan belajar

– Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat siswa mengerjakan tugas

Fase-5

– Evaluasi

– Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau meminta siswa

– Mempresentasikan hasil kerjanya, kemudian dilanjutkan dengan diskusi

Fase-6

– Memberikan penghargaan

– Guru memberikan penghargaan kepada siswa yang berprestasi untuk menghargai upaya dan hasil belajar siswa baik secara individu maupun kelompok

Guru menyajikan pelajaran dan kemudian siswa bekerja di dalam kelompok mereka untuk memastikan bahwa seluruh anggota kelompok telah menguasai materi pelajaran tersebut. Akhirnya kepada seluruh siswa diberikan tes tentang materi itu. Pada waktu tes ini mereka tidak dapat saling membantu. Poin setiap anggota tim ini selanjutnya dijumlahkan untuk mendapat skor kelompok. Tim yang mencapai kriteria tertentu diberikan sertifikat atau ganjaran lain.

Jigsaw

Kooperatif tipe Jigsaw ini dikembangkan oleh Elliot Aronson’s. Kooperatif tipe jigsaw ini didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya. Dengan demikian siswa saling tergantung satu dengan yang lain dan harus bekerjasama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan.

Dalam penggunaan kooperatif tipe Jigsaw ini, dibentuk kelompok-kelompok heterogen beranggotakan 4 sampai 6 siswa. Materi pelajaran disajikan kepada siswa dalam bentuk tes dan setiap siswa bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan bagian materi tersebut kepada anggota kelompok lainnya (Arends, 2001).

Anggota pada kelompok yang berbeda dengan topik yang sama bertemu untuk diskusi (antar ahli), saling membantu satu dengan lainnya untuk mempelajari topik yang diberikan (ditugaskan) kepada mereka. Kemudiaan siswa tersebut kembali kepada kelompok masing-masing (kelompok asal) untuk menjelaskan kepada teman-teman satu kelompok tentang apa yang telah dipelajarinya. Dengan demikian penggunaan tipe Jigsaw terdapat dua jenis kelompok, yakni kelompok asal dan kelompok ahli. Kelihatannya dalam pengorganisasian belajar seperti ini memiliki keterkaitan dengan “penggunaan tutor sebaya”.

Tahap-tahap pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw

Sintaks Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw

Fase Tingkah Laku Guru

Fase-1

– Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa

– Guru menyampaikan tujuan pembelajaran (atau indikator hasil belajar)

– Guru memotivasi siswa

– Guru mengkaitkan pelajaran sekarang dengan yang terdahulu

Fase-2

– Menyajikan informasi

– Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bacaan

Fase-3

– Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompokkelompok belajar

– Guru menjelaskan kepada siswa cara membentuk kelompok

– Guru mengorgani-sasikan siswa ke dalam kelompok–kelompok belajar (Setiap kelompok beranggotakan 5-6 orang, heterogen, dan setiap anggota diberi tanggung jawab untuk mempelajari bagian tertentu bahan yang diberikan untuk menjadi ahli pada masing-masing bagian tertentu).

Fase-4

– Membimbing kelompok bekerja dan belajar

– Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat siswa mengerjakan tugas

Fase-5

– Evaluasi

– Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau meminta siswa mempresentasikan hasil kerjanya, kemudian dilanjutkan dengan diskusi

Fase-6

– Memberikan penghargaan

– Guru memberikan penghargaan kepada siswa yang berprestasi untuk menghargai upaya dan hasil belajar siswa baik secara individu maupun kelompok

Jigsaw didesain selain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa secara mandiri juga dituntut saling ketergantungan yang positif (saling membantu) terhadap teman sekelompoknya. Pada akhir pembelajaran diberikan tes kepada siswa secara individual. Materi yang diteskan meliputi materi yang telah dibahas. Kunci pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah interdependensi setiap siswa terhadap anggota kelompok yang memberikan informasi yang diperlukan dengan tujuan agar dapat mengerjakan tes dengan baik.

 

Group Investigation

Group Investigation adalah teknik cooperative learning dimana para murid bekerja didalam kelompok-kelompok kecil untuk menanggapi berbagai macam proyek kelas. Setiap kelompok membagi-bagi untuk tugas tersebut menjadi sub topic-sub topic yang kemudian setiap anggota kelompok melakukan kegiatan meneliti untuk mencapai tujuan kelompok. Setelah itu setiap kelompok mengajukan hasil penelitiannya kepada kelas. Dalam teknik ini, hadiah atau point tidak diberikan.

Menurut Slavin (2000) beberapa keuntungan dalam pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut:

a. Siswa bekerjasama dalam mencapai tujuan dengan menjunjung tinggi norma-norma kelompok.

b. Siswa aktif membantu dan mendorong semangat untuk sama-sama berhasil.

c. Aktif berperan sebagai tutor sebaya untuk lebih meningkatkan keberhasilan kelompok.

d. Interaksi antar siswa seiring dengan peningkatan kemampuan mereka dalam berpendapat.

e. Interaksi antar siswa juga membantu meningkatkan perkembangan kognitif yang non konservatif menjadi konservatif (Teori Piaget).

 

EKSPERIMEN

Slavin (1995) melakukan penelitian yang berlangsung selama 4-5 minggu pada beberapa proses belajar dan menggunakan berbagai metode pembelajaran kooperatif. Secara keseluruhan, siswa dalam kelompok pembelajaran kooperatif mencetak sekitar seperempat dari deviasi standar yang lebih tinggi pada tes prestasi daripada siswa yang diajarkan secara konvensional. Ini menjadi sebuah keuntungan dari 10 peringkat persen (persen 60 untuk siswa belajar koperasi-rata versus persentil ke-50 untuk rata-rata siswa diajarkan konvensional).  Tetapi efek menguntungkan dari pembelajaran kooperatif ini bervariasi sebagai fungsi dari metode tertentu yang digunakan. Kinerja yang terbaik terjadi dengan dua teknik yang disebut-Prestasi Mahasiswa Tim Divisi dan Tim-Games-Turnamen. fitur pembelajaran kooperatif yang tampaknya paling bertanggung jawab untuk belajar keuntungan adalah kelompok tujuan dan tanggung jawab individu.

Slavin (1995) menemukan bahwa sebelas dalam lima belas studi, pembelajaran kooperatif bila dibandingkan dengan pembelajaran nonkooperatif meningkat lebih besar dalam beberapa aspek diri (umum harga diri, harga diri akademik, sosial, harga diri).

 

PENERAPAN TEORI DALAM PENDIDIKAN

Penerapan cooperative learning (pembelajaran kooperatif) dalam pendidikan itu sendiri adalah dalam satu pelajaran tertentu, pembelajaran kooperatif dapat digunakan untuk tiga tujuan berbeda. Sebagai contoh, dalam suatu pelajaran tertentu para siswa bekerja berkelompok untuk berupaya menemukan sesuatu, misalnya saling membantu mengungkapkan prinsip-prinsip suara melalui pengamatan dan aktivitas menggunakan botol berisi air. Setelah pelajaran selesai, siswa dapat bekerja sebagai kelompok-kelompok diskusi. Akhirnya siswa mendapat kesempatan bekerjasama untuk memasukkan bahwa seluruh anggota kelompok telah menguasai segala sesuatu tentang pelajaran tersebut sebagai persiapan untuk kuis, bekerja dalam suatu format belajar kelompok. Di dalam skenario yang lain, kelompok kooperatif dapat digunakan untuk memecahkan suatu masalah kompleks.

 

DAFTAR PUSTAKA

– Arends, R. I. (2001). Learning to Teach. New York: McGrawHill

– ipotes.wordpress.com/2008/05/10/metode-pembelajaran-kooperatif/

– translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://college.cengage.com/education/pbl/tc/coop.html

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar